Sudahkah, Membuat Akun Media Sosial yang Layak Untuk Diikuti?

Sudahkah, Membuat Akun Media Sosial yang Layak Untuk Diikuti?

Akun Media Sosial yang layak diikuti




Berawal dari writer block alias mati ide, saya memilih melakukan blogwalking. Biasanya kegiatan ini cukup ampuh untuk memantik ide-ide baru yang ada di kepala atau paling tidak merangsang mood menulis.

Blog yang saya kunjungi kali ini milik Helen (sayangnya kemarin nyoba buka lagi, blognya udah nggak aktif). Dia menulis postingan yang intinya tentang ‘sudahkah media sosial kita itu layak untuk diikuti?’

Sebagai seorang pekerja konten, tentu saja kita tidak pernah lepas dari tugas membuat konten-konten yang tujuannya untuk mempengaruhi orang lain. Ada kalanya kita diminta membuat sebuah produk tertentu layak untuk dibeli. Hal yang lain adalah kadang kala kita tanpa sadar ikutan menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya.

Seperti yang kita ketahui kalau media sosial itu seperti koin dua sisi. Satu hal dia bersifat menguntungkan, mempermudah kerja kita dalam menyebar sebuah informasi. Sisi sebaliknya, media sosial bisa menjadi sebuah pisau tajam yang menyakitkan, bisa tanpa sadar menyakiti penggunanya.

Postingan Helen ini sukses membuat saya merenung tentang hal-hal yang telah saya bagikan di media sosial. Benarkah semua konten yang saya bagikan bernilai untuk orang lain atau malah memberikan pengaruh tidak baik?

Akhir-akhir ini saya mulai memilah-milah terhadap akun-akun media sosial yang ingin saya ikuti. Terkadang meskipun saya kenal orangnya tapi tidak suka dengan isi kontennya. Ya udah mending saya nggak follow sekalian. Daripada ujung-ujungnya saya sebal dan sakit hati. Malah bikin darah tinggi. Obatnya mahal, dong!

Lantas akun media sosial seperti apa yang layak diikuti?


Berikan ‘value’ Pada Orang Lain

Konten yang kita bikin tidak harus ‘wah’ tapi sesuatu yang sederhana tapi memberikan ‘nilai yang bermanfaat’ bagi orang lain. Sehingga sehabis dia membaca/melihat postingan kita di media sosial menjadi senang, semangat atau malah bisa bangkit dari keterpurukan.

Yes, poin utamanya adalah buatlah konten yang memiliki ‘makna’ untuk orang lain.

Baca juga: 4 Kanal Youtube Fotografi


Semua Orang Tidak Perlu Tahu Tentang Kehidupan Pribadimu


Mengeluh sesekali di Media Sosial sih boleh saja tapi kalau itu menjadi sesuatu yang sering. Rasanya nanti dulu deh.

Rasanya tidak semua orang yang pengin tahu kehidupan orang lain. Jadi, tahan diri untuk tidak terlalu membuka kehidupan pribadimu untuk orang lain. Apalagi kalau itu merupakan aib.

Saya pernah punya pengalaman mengenai ini. Saya pernah loh dimaki sama salah satu teman FB gara-gara keseringan gonta-ganti status. Waktu itu saya kira itu sesuatu yang wajar. Ternyata tidak. Dari situ saya belajar bahwa tidak semua tentang kehidupan pribadimu yang bisa dibagikan di media sosial.

Netizen sekarang ini jahat. Bahkan lebih jahat daripada yang punya status. Bijaklah saat menuliskan perasaanmu. Jangan sampai jadi boomerang.

Membuat Batasan Antara yang Boleh Diberitahukan Ke Medsos dan Tidak

Seperti yang saya bilang di atas tentang semua orang tidak perlu tahu tentang kehidupan pribadimu. Maka, buatlah batasan-batasan yang boleh diunggah ke media sosial. Jangan sampai postingan kita pada akhirnya menyakiti orang lain.

Kamu sedang marah sama orang lain, beritahukan saja langsung. Daripada memaki-makinya di media sosial, toh tidak akan membuat masalahmu dan dia beres.

Saya tahu itu akun personalmu tapi ada orang lain yang juga ingin mencari ‘makna’ dari postinganmu. Maka, pilihlah konten yang kiranya bermanfaat.

Batasan-batasan itu bisa membantumu untuk menjadi diri sendiri di dunia nyata. Sehingga kamu masih mempunyai privasi sebagai dirimu sendiri.

Konten yang Tidak Merusak Orang lain


Beberapa bulan ini saya sedih karena beberapa influencer yang saya kagumi mulai kehilangan arah. Bahasan dia udah tidak seperti saat kali pertama. Saya sadar semua orang berubah tapi hanya saja itu membuat sedih.

Sebagai seorang influencer kita juga berkewajiban dalam mendidik orang lain. Hanya karena alasan konten bukan berarti kita tidak bertanggung jawab dengan kehidupan orang lain.

Di antara pengikut kita, pasti ada pemula yang baru belajar bermedia sosial. Jangan sampai dia beranggapan ‘memaki’ di media sosial itu hal biasa. Pada akhirnya kita malah merusak orang lain.

Ada orang yang berkoar-koar tentang revolusi mental eh tapi konten dia malah membuat orang lain mengelus dada. Come on.

Baca juga: 10 Akun Instagram yang Menginspirasi

Like Bukan Patokan


Media sosial sekarang ini udah kayak persaingan pemilu. Semua orang hanya berfokus pada like, dan komen. Tanpa peduli apakah konten yang dibuat itu menarik, mudah dipahami oleh orang lain.

Yap, sebab like di jaman sekarang sama dengan uang.

Saya sendiri, lebih suka akun-akun yang memang peduli terhadap kontennya ketimbang berpacu pada like dan komentar. 

Lihat Juga: Pencapaian-pencapaian sebagai blogger di tahun 2018


Semua orang punyak hak pribadi atas media sosialnya. Itu hak kalian bagaimana mengelolanya tapi jangan lupa, kamu juga berkewajiban dalam mendidik orang lain. Jadi, bijaklah saat menggunakan media sosial.

Sudahkah, akun media sosialmu layak untuk diikuti?

Salam,
Pencapaian-Pencapaian yang Sudah Dilakukan Sebagai Blogger di Tahun 2018

Pencapaian-Pencapaian yang Sudah Dilakukan Sebagai Blogger di Tahun 2018

Pencapaian-pencapaian Sebagai Blogger Di Tahun 2018


Beberapa hari ini di linimasa Facebook, saya melihat postingan beberapa kawan blogger yang membahas tentang pencapaian-pencapaian yang telah didapat sebagai seorang pekerja lepas alias blogger di tahun 2018. 

Kok kayaknya menarik. Saya memutuskan menulis teman sejenis tapi tentunya tentang pengalaman sendiri.

Pencapaian saya memang belum seheboh para teman blogger lain, apalagi saya bukanlah tipe yang ambisius dalam pekerjaan. Saya lebih suka mengerjakannya dengan pelan-pelan sehingga lebih menikmati prosesnya. Terlalu memaksa akan membuat diri saya kehilangan momen yang membuat saya bahagia.

Selama tahun 2018 ini saya merasakan hal yang luar biasa dalam hal blogging, Sesuatu yang terlihat biasa bagi orang lain tapi membawa dampak perubahan besar bagi karir blogging. So far, saya bahagia.

Menang Lomba


Tahun 2018 ini untuk kali pertama saya menang lomba. Bukan lomba besar tapi merupakan pencapaian besar karena bisa menyisihkan puluhan artikel lainnya. Saya berhasil menjadi pemenang kedua dalam lomba review menu baru Hokben bersama blogger Surabaya. 

Membuat kaget karena waktu itu saya merasa foto makanan tersebut belum maksimal, eh ternyata penilaiannya lebih ke experience saat mencoba makanan. 


Hadiahnya lumayan buat menambah pundi-pundi tabungan. Alhamdulillah sekali


Berani Mencoba Ikutan Lomba


Kemenangan di lomba review menu Hokben memercik kepercayaan diri untuk mencoba mengikuti lomba yang diadakan oleh Asus dan Blogger Crony. Ditambah dukungan dari Wulan yang kebetulan juga tengah ikut lomba yang sama.

Dulu, saya mana berani ikutan lomba padahal sih sebenarnya mampu entah kenapa mood untuk menulis lomba itu hilang kemana. Kadang sudah hilang kepercayaan diri duluan saat mengetahui sapa pesaingnya.

Saya memang tidak memang tapi setidaknya saya mencoba mengalahkan ketakutan sendiri. Itu membuat saya bangga. 

Semoga tahun depan saya bisa ikutan lebih banyak lomba lagi. 

Artikelnya bisa baca di sini: Bagaimana saya membangun diri dengan blog

Menulis Untuk Dua Blog


Saya akui tahun ini, minat saya terhadap menulis di blog agak sedikit menurun. Saya tengah mengalami titik jenuh terhadap tema-tema tertentu sehingga menimbulkan rasa malas untuk memperbaharui isi blog.

Tahun ini saya berhasil menulis 94 postingan. Eh itu bukan untuk satu blog saja, total 94 tulisan itu berlaku dengan dua blog. So far, lumayanlah ya. Membela diri.

Tahun depan saya pengin memfokuskan tulisan untuk kedua blog.

Tahun lalu saya menganaktirikan blog saya yang swastikha.com. Namun, rencananya tahun depan saya akan banyak menulis konten jalan-jalan.

Doakan saya ya.


Menaikkan Trafik Blog

Bertahun-tahun saya selalu bertanya-tanya, kenapa trafik blog saya hanya berkisar 1000 pageview per bulan. Sedih, saat ada teman blogger lainnya yang bisa mencapai pageview hingga jutaan.

Saya sampai curhat sama beberapa teman blogger yang emang pageviewnya bagus, dan mereka rela mengecek apakah ada masalah dengan google analytic. Ternyata tidak. Masalah ini membuat saya stress.

Saya mencoba opsi yang lain yaitu dengan mengganti template blog yang responsive dan lebih banyak menulis konten everlasting. Alhamdulillah ada perubahan yang cukup signifikan pada trafik blog, meskipun belum pada tahapan yang oke banget.

Setidaknya setiap bulan, blog saya sudah menyentuh angka 2500. Belum maksimal memang tapi saya sedang ingin menikmati prosesnya.

Saya mesti lebih banyak belajar lagi menulis artikel sesuai kaidah SEO, biar hasilnya lebih optimal.

Mari semangat.


Memasang Template Blog


“Jangan mengaku Blogger Pro, kalau belum bisa pasang template sendiri.”

Pernyataan Mba Langit ini terus terang membuat saya tertampar. Pasalnya, saya masuk dalam daftar blogger yang gaptek urusan coding. Saya memilih menggunakan jasa Wulan untuk mengubah tampilan blog.

Dan, kemarin Wulan melakukan tindakan protes. Dia nggak mau bantuin saya pasang template yang sudah dibeli. Kata dia, “coba deh Mba pasang sendiri.”

Baiklah, dengan tertatih-tertatih membaca instruksi yang diberikan oleh penjual template, saya berhasi menyelesaikan tugas mengganti template blog. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

Saya malah kepikiran untuk membeli template baru untuk cadangan tahun depan kalau lagi bosan. Mumpung Etsy lagi banyak diskon euy.


Belajar Foto Makanan sama Wulan


Dua bulan terakhir ini, saya dipercaya oleh sebuah jasa layanan antar makanan online untuk menulis mengenai konten makanan. 

Menulis konten makanan memang tidak begitu susah tapi lain lagi kalau urusan foto dan menata supaya makanan yang dibeli nampak menggiurkan bagi yang melihat. 

Bohong banget kalau dibilang saya penyuka genre foto yang satu ini. Serius, saya orangnya nggak sabaran dalam menata. Saya lebih suka makan di resto yang memang tampilan makanannya sudah ditata sejak awal ketimbang saya harus menata sendiri. 

Fyuh, elap keringat.

Mau tidak mau saya harus belajar. Dengan meminta bantuan Wulan yang memang sudah jago dalam genre ini. Lumayan deh hasilnya, setidaknya saya bisa belajar lebih giat lagi nantinya.


Membeli Laptop Baru Pakai Hasil Ngeblog

Salah satu barang yang membuat saya rela kehilangan uang adalah Laptop. Bagi seorang pekerja lepas seperti saya, laptop adalah senjata perang dan juga sebuah invetasi.

Mungkin bagi sebagian orang, saya melakukan pemborosan karena sudah memiliki laptop. Tapi, pekerjaan saya memaksa untuk menciptakan konten yang lebih baik. Oleh karena itu saya membutuhkan perlengkapan yang mumpuni supaya pekerjaan lebih maksimal.

Toh, hasilnya akan balik lagi ke kita. 

Itulah pencapaian-pencapaian yang sudah saya lakukan sebagai blogger di tahun 2018. Prosesnya masih panjang dan saya bersemangat untuk melakukannya.

Tahun 2018 ini memberikan warna yang lebih baru dalam hidup. Saya lebih berani dalam mengambil sikap dan tentunya belajar bahwa untuk menghasilkan konten yang bagus itu butuh kerja keras.

Terserah, jika ada orang yang mencibir. This my own life, kecuali dia mau bayarin tagihan hidup saya. Hahah,

Salam,


10 Akun Instagram yang Menginspirasi Melalui Foto

10 Akun Instagram yang Menginspirasi Melalui Foto




Dibandingkan media sosial lain, Instagram lebih banyak mengambil porsi dalam hati. Saya lebih sering menghabiskan banyak waktu untuk main-main ke instagram ketimbang akun Facebook atau twitter. Entahlah, saya lebih suka berlama-lama mengamati foto-foto untuk mencari inspirasi atau sekedar menyenangkan mata dengan foto-foto apik.

Rasanya hampir setiap orang memiliki akun-akun favorit sesuai kriteria yang mereka suka. Biasanya alasan saya mengikuti akun instagram seseorang adalah foto-fotonya yang apik, memanjakan mata dan ada nilai keunikan dari setiap foto yang diambil. Terkadang saya hanya tertarik dengan caption-captionnya yang selalu ditunggu.

Sebenarnya saya sudah pernah menulis dengan tema ini setahun yang lalu. Tak mengapalah, karena yang namanya selera suka berubah-ubah sesuai mood. Dulu, mungkin saya menyukai foto-foto yang lebih personal dan bisa saja selera saya berubah.

Berhubung saya lagi pengin belajar fotografi, tentu akun-akun pilihan saya ini memiliki feed yang bisa menginspirasi untuk lebih belajar lagi tentang fotografi, seperti komposisi, teknik, editing, dll. Sehingga saat saya sedang bingung mau mengabadikan gambar apa? Ya, main-main aja ke akun mereka.

@mich.elle.imagery


@mich.elle.imagery
@mich.elle.imagery

Foto-foto michelle hampir 90% didominasi oleh flatlay. Ada kalanya sih dia memasang fotonya sendiri tapi jarang banget. Saya suka konsep-konsep foto yang dilakukan Michelle, terlebih lagi dengan keahlian dia dalam menata flatlay.

Dari hasil wawancara yang pernah saya lakukan, ternyata dia pernah bekerja menjadi decorating interior. Itulah alasannya kenapa hasil fotonya memiliki nilai astetik.

Baca hasil wawancara saya dengan Michelle: flatlay 101 with michelle

Tidak hanya foto, Michelle juga sering membagikan behind the scene dari kehidupannya melalui unggahan instastories. Dia bukan tipe instagramer yang sering menggunggah foto. Bisa dibilang jarang tapi sekalinya unggah, fotonya apik. 

That’s why, i prefer to turn on my notification. 

Dia orangnya ramah dan nggak sungkan untuk memberikan komentar atau suka pada foto orang lain.

@soraky

@soraky
@soraky

Saya mulai mengikuti akun sekitar setahun lalu. Saya jatuh cinta dengan kekonsistenan feednya. Semua tidak lepas dari birunya langit, rerumputan dan potrait yang apik. Konsepnya unik dan nyandu untuk diikuti. 

@kintoky_777


@kintoky_777
@kintoky_777

Masih senada dengan Soraky yang berasal dari Jepang. Akun @kintoky_777 ini juga berasal dari Jepang. Objek fotonya lebih ke arah street photography yang membidik sudut-sudut jalanan, kegiatan sehari-hari dan objek yang terkadang tidak pernah dipikirkan untuk dipotret.

Dan, sepertinya pemilik akun kintoky_777 ini bukan tipe instagramer yang haus akan tanda love dan comment lebih pada kepuasan diri setelah memotret.

@anamarques210376


@anamarques210736
@anamarques210736

If you like something minimalistic, you can follow this person

Tema-tema foto dari akun yang bernama Ana Marques ini lebih ke arah minimalis. Sederhana tapi apik. Feednya rapi dengan komposisi warna yang soft. Menyenangkan berlama-lama main ke akun ini.

@npmalina



@npmalina
@npmalina

Nicoline Patricia Malina, saya mengenal dia dari acara hitam putih. Kisah perjalanannya menjadi seorang fotografer ternama di Indonesia membuat saya tertarik padanya. Di akun pribadinya ini, Nicole lebih banyak mengunggah foto-foto pribadi, kerjaannya dan kesehariannya juga. Saya betah berlama-lama di akun ini karena semua fotonya bagus, bahkan instastorynya selalu asyik untuk ditonton.

@ringostar.desu


@ringostar.desu
@ringostar.desu

“The stories of Apple Girl”

Awal mengikuti dia, saya sempat bingung karena semua gadis yang dia foto membawa sebuah apel merah. Ternyata itu memang sebuah personal branding yang ingin dia ciptakan dalam fotonya. Orang akan mengenal karya foto Ringo dari apel merah tersebut.


@rindugr

@rindugr
@rindugr

Belakangan ini saya lagi tertarik dengan tema flatlay, itulah kenapa sekarang saya banyak mengikuti akun-akun berbau flatlay. Alasannya saya ingin lebih banyak belajar lagi tentang teknik foto yang populer di kalangan instagramer. Salah satu akun yang saya sukai adalah milik Rindu Merina ini. 

Dengan dominan mengambil latar belakang warna putih, membuat foto-foto yang diambil oleh pemilik akun @rindugr ini terlihat estetik dan rapi. Miriplah sama foto ala-ala majalah kinfolk.


@dndporcasa


@dndporcasa
@dndporcasa

Masih tidak jauh-jauh seputar flatlay, akun yang satu ini lebih ke arah food alias makanan. But, bukan sembarang makanan ya. Kaisa, nama pemilik akun ini lebih memfokuskan pada aneka sarapan sehat, kopi dan teh. 

Feednya rapi dan cantik. Bisa jadi inspirasi kalau kamu sedang bosan melihat timeline orang lain.

@poeticpicture


@poeticpicture
@poeticpicture


Berawal dari ocehan amrazing soal akun-akun yang menginspirasi untuk belajar fotografi, terdamparlah saya ke akunnya mba Sasha ini.

Mba Sasha ini ternyata seorang fotografer profesional yang karya-karya sudah banyak. Dia juga sering mengajar workshop soal fotografer. Tidak ada tema khusus di feed ignya. Beliau juga sering berbagi ilmu mengenai teknik dasar fotografi dalam foto atau unggahan storiesnya.


@thislittlemoment



@thislittlemoment
@thislittlemoment

Akun @thislittlemoment ini memang bukan milik pribadi tapi lebih ke akun besar yang sering merepost foto-foto/hasil karya orang lain. Di Instagram banyak bertaburan akun sejenis. Apa yang membuat saya merekomendasikan akun ini adalah pemilihan foto-fotonya yang apik. Menunjukkan si pemilik memiliki 'taste' yang apik soal fotografi.

Masih banyak akun-akun di instagram yang bisa menginspirasi yang nggak mungkin saya sebutkan satu persatu. Di antara 10 akun ini, mana yang pernah kalian follow atau sukai?

Atau ada yang menyarankan pada saya?


Apa yang Harus Saya Tulis di Kotakwarna.com?

Apa yang Harus Saya Tulis di Kotakwarna.com?



niche-blog-kotakwarna.com



A Personal Lifestyle Blog



Emang kotakwarna.com itu isinya apa sih?

Sejak awal membuat blog, saya memang tidak memikirkan tentang tema besar dari blog yang saya kelola ini. Semuanya berjalan bagaikan air, mengikuti apa kata isi kepala dan mood saya saat ingin menulis. 

Dulu, kali pertama blog ini dibuat isinya benar-benar acak-acakan, lebih ke tulisan-tulisan personal ala curhat yang kadang diselipi tulisan puisi atau fiksi. Kala itu saya memang lagi menggemari kedua jenis tulisan itu.

Saat itu blog juga hanya tempat mencurahkan isi hati selebihnya sebagai sarana latihan menulis fiksi supaya tahu apakah tulisan saya bisa diterima oleh khalayak umum. Aslinya sih saya ini bosan apalagi kalau harus fokus nulis dalam satu tema. Ampun dah, saya menyerah.

Saat blog ini berganti nama menjadi Kotakwarna, isinya sih masih tetap random tapi mulai ada kejelasan ke arah mana blog ini akan dibawa. Saya mulai membuat kategorisasi di blog ini. Masih terlalu banyak sih kategorinya namun setidaknya sudah ada panduan deh blog ini isinya apa. 

Pada akhirnya saya memantapkan diri memasukkan diri dalam niche lifestyle alias gado-gado. Setidaknya saya mulai mengkhususkan diri di blog kedua saya yaitu swastikha.com. Beberapa kategori yang sebelumnya ada di kotakwarna, saya pindahkan ke sana, seperti catatan perjalanan, hotel, makanan dan tulisan personal ala curhatan.

Lantas apa sih tema-tema yang dalam blog ini?

Lifestyle

Tema utama di blog ini adalah berhubungan dengan lifestyle atau gaya hidup. Isi tulisan gaya hidup di sini lebih berkisar kepada gaya hidup pada umumnya, gaya hidup sehat, tempat nongkrong kekinian, ulasan produk makanan.

Artikel Lifestyle: 5 Kelebihan Wholesale Air Track

Blogging


Walaupun ilmu tentang blogging saya masih dangkal, ada kalanya saya juga menulis tentang dunia blog berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan dan apa yang juga pernah saya pelajari sebelumnya. Intinya sih, saya juga ingin berbagi ilmu kepada teman-teman blogger lainnya.

Selain membahas soal blog, dalam kategori blogging ini, saya sering membahas tentang media sosial, dan sedikit pengetahuan tentang fotografi yang semuanya itu merupakan sebuah kebutuhan untuk kami para blogger.

Artikel terkait Blogging: 8 Aplikasi Mempercantik Konten Instagram

Hiburan


Berawal dari kesukaan saya akan menonton film dan mendengarkan musik, saya memasukkan kategori hiburan dalam blog ini. Saya ingin berbagi kepada para pembaca tentang drama/film apa yang tengah saya tonton. 

Sebagai penggemar drama korea garis keras, ya kebanyakan drama yang saya ulas pasti nggak jauh-jauh dari drama dari negeri gingseng ini dan juga film-film lainnya sih.

Baca aja: Seketika terkena virus Kpop


Beauty

Belakangan ini saya mulai aware tentang yang namanya perawatan kulit, sehingga sering membeli produk-produk kecantikan untuk dicoba. Selain untuk perawatan kulit, produknya bisa diulas di blog. Lumayanlah bisa nambahin trafik blog.

Sering mengulas produk kecantikan membuat saya sering mendapatkan undangan dari beberapa brand kosmetik. Jadi, saya memutuskan untuk membuat kategori beauty dalam blog. Konten kecantikan ini bisa dibilang penyumbang trafik terbesar di blog.


Psychology

Sebagai orang yang mempunyai latar belakang pendidikan Psikologi, saya sengaja memasukkan kategori ini ke dalam blog. Tulisan psikologi saya lebih berfokus pada pengembangan diri, tentang hubungan dan kadang sedikit parenting. 

Fiction

Berawal dari penulis fiksi, tentu saja membuat tulisan saya juga didominasi sama cerita-cerita pendek ala saya dan masih juga beberapa puisi. Tapi belakangan saya sudah jarang menulis fiksi (lupa rasanya) sehingga tulisan kategori fiksi belum ada tulisan terbaru.

Semoga saya kembali ingin menulis fiksi lagi dan bisa membuat cerita-cerita baru untuk diposting di blog.

Baca: A Love Letter To Hana

Bloggerlife


Sengaja dikasih kategori ini karena hasrat untuk curhat colongan masih tinggi. Biasanya sih lebih ke curhat tentang kehidupan sebagai blogger atau kehidupan sehari-hari yang masih ada hubungannya sama kategori lifestyle.


Yah, itu sih garis besar kategori-kategori yang ada di kotakwarna. Selebihnya masih ada kategori-kategori kecil yang tidak saya tulis di sini. Apakah akan bertambah lagi? Entahlah, tergantung sama mood.

Buat yang ingin bekerjasama dengan kotakwarna, boleh deh pilih kategori yang sesuai di atas (jangan lupa kirim email ya)


Salam,
10 Alas Foto/Background yang Mudah Ditemukan Di rumah Untuk Mempercantik Foto Flatlay

10 Alas Foto/Background yang Mudah Ditemukan Di rumah Untuk Mempercantik Foto Flatlay

10-alas-foto-yang-mudah-ditemukan-dirumah



10 Alas Foto/Background Foto Flatlay yang Mudah Ditemukan Di Rumah


Bicara tentang tren fotografi, rasanya foto Flatlay belakangan ini menjadi salah satu genre foto yang banyak diminati banyak orang. Ketikkan saja ‘flatlay’ pada instagram/pinterest, kamu akan menemukan ribuan foto-foto flatlay dengan berbagai tema. Nggak hanya itu, di kanal Youtube juga banyak para youtuber yang juga membahas tentang bagaimana cara membuat foto flatlay yang menarik perhatian. 

Bisa dibilang Foto Flatlay menjadi sesuatu yang diminati banyak orang selain swafoto.

Foto Flatlay adalah teknik pengambilan gambar/foto dengan sudut pengambilan 90 derajat dan biasanya benda-benda tersebut diletakan di atas permukaan datar.

Salah satu komponen penting dalam pembuatan foto flatlay adalah alas foto. Alas foto akan membantu mempercantik hasil foto dan tentunya juga penataan memiliki peranan lebih penting. Secantik apapun alasnya, kalau teknik penataan kita kurang maka foto flatlay kita akan begitu saja dan terkesan ‘monoton’

Permasalahan yang sering dikeluhkan oleh para penyuka flatlay adalah mengenai alas foto. Beberapa dari mereka bingung menggunakan alas apa, termasuk saya. Bahkan, beberapa dari mereka memilih membeli alas foto untuk mempercantik foto-foto mereka. Belakangan, penjualan alas foto di lapak-lapak online semakin meningkat karena permintaan yang banyak. Siapa coba yang nggak mau foto flatlay kece.

Padahal harga dari alas foto itu tidak murah sih. Saya pernah membeli alas foto dari salah satu lapak online sekitar 88 rb belum termasuk ongkir. Sayangnya, saya kecewa dengan hasil karena tidak sama dengan kualitas yang mereka tawarkan. Pemasangan alas fotonya tidak rapi dan berkerut. Saat dipakai membutuhkan editing untuk menghilangkan efek kerutan tersebut. Bisa dibayangkan kalau kita ingin bergonta-ganti alas foto yang berbeda tentu membutuhkan anggaran cukup besar.

Itu sih yang ada anggaran. Gimana kalau buat orang yang ingin foto flatlay tapi nggak punya dana untuk membeli alas foto?

Tenang saja. Ada banyak cara untuk mensiasatinya bahkan jikapun mengeluarkan uang, harganya akan lebih murah dari membeli alas foto online. Benda-benda ini akan mudah ditemukan di rumah.

Mau tahu? Baca sampai habis ya.

Kertas



Rasanya benda yang satu ini mudah sekali ditemukan di rumah dan kalaupun harus beli tentu harganya terjangkau. Nah, kertas di sini pun ada banyak macamnya ya. Sesuaikan saja sama kebutuhan kalian. Ini beberapa macam kertas yang bisa digunakan untuk alas foto

  • Kertas HVS
  • Kertas karton manila
  • Kertas Lipat
  • Kertas bufallo
  • Kertas kado
  • Kertas asturo
  • dl
Kelebihan dari alas foto kertas ini adalah mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Jadi, kalau robek/rusak bisa dibeli dengan harga murah. Penggunaannya juga mudah dan bergantung pada kreatifitas masing-masing. Bisa untuk alas foto sepenuhnya atau sebagai layering

Koran




Sampai saat ini saya belum menemukan foto flatlay yang memakai koran sebagai alas foto sepenuhnya. Biasanya koran dipakai sebagai layerin/ditumpuk di atas alas foto utama. Sebagai pemanis foto flatlay kopi dan roti. Semacam menceritakan menu sarapan pagi.

Kalau punya saudara/teman yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri, koran bisa menjadi alternatif oleh-oleh.

Selimut/Bed cover/Seprai




Belakangan ini saya baru tahu bahwa ternyata selimut, bed cover atau seprai bisa menjadi alternatif alas foto. Ukurannya yang lebar bisa membuat kita lebih leluasa berkreasi. Michelle, salah satu instagramer yang pernah aku wawancarai merekomendasikan 3 benda tersebut sebagai alas foto. Pastinya di antara ketiga benda itu ada di rumah. 

Seorang teman blogger sengaja membeli seperangkat seprai dan bed cover hanya untuk membuat foto ala-ala di hotel. Buat yang suka minimalis bisa memakai motif yang polos sedangkan yang ingin bermain warna bisa pakai motif yang lebih ramai. 

Kerudung/Kain




Berhubung alas lipat saya berkerut, saya memutuskan untuk membeli kain meteran sebagai alas foto harganya murah tergantung bahan kain. Saya pernah beli ukuran 1m sekitar 30 rb. Kelebihan alas foto kain ini mudah dicuci dan tahan lama.

Selain kain, bisa juga menggunakan kerudung segiempat sebagai alas foto. Seorang teman pernah bercerita kalau dia menggunakan kerudung warna putih sebagai alas fotonya.

Meja




Berhubung rumah saya memiliki banyak unsur kayu, seperti meja dan kursi. Saya sering menggunakan kursi sebagai alas foto untuk makanan. Tinggal ditambahin ornamen lain. Jadilah foto yang cantik. Selain makanan, saya pernah memakai meja kayu untuk membuat foto flatlay buku. Hasilnya tak kalah bagus.

Lantai/Keramik






Tidak punya benda-benda yang saya sebutkan di atas? Jangan khawatir, kamu bisa tetap berkreasi dalam foto flatlay menggunakan alas foto lantai/keramik. Mudah, murah dan motif tiap keramik itu unik jadi akan memperkaya foto flatlaymu. Kembali lagi tergantung pada kreatifitas. Saya pernah mencoba beberapa kali, not bad lah hasilnya

Dinding




Foto Flatlay itu merupakan bagian dari genre Still Life dalam dunia fotografi, di mana memotret benda-benda mati dan kata flatlay sendiri berarti permukaan datar. Jadi, dinding juga bisa kamu gunakan sebagai alas foto/background. Banyak kok foto-foto lucu yang menggunakan dinding sebagai latar belakang. Jika suka yang kesannya netral dan bersih, pilihlah warna-warna seperti putih, abu-abu. Suka yang ceria pilihlah warna-warna mencolok.

Taplak


Taplak meja yang bertengger di atas meja juga bisa kamu gunakan menjadi alas foto. Bisa menjadi sebagai alas utama atau layering sebagai tambahan tekstur pada fotomu. Foto flatlay tidak melulu benda-benda yang menonjol tapi kamu bisa menggunakan kain-kain yang memiliki motif, bentuk dan ukuran untuk ikut meramaikan. Misalnya kamu punya taplak yang berumbai, kamu bisa gunakan ujung rumbainya sebagai pemanis foto atau gunakan saja taplaknya sebagai alas.

Kalender Bekas


Nggak punya anggaran buat beli alas foto berwarna putih, jangan berkecil hati yes. Pakai saja kalender bekas, tinggal dibalik aja. Kamu sudah bisa mendapatkan alas foto berwarna putih yang murah meriah. Yah, memang nggak sebesar alas foto yang kamu inginkan tapi setidaknya kamu sudah bisa menggunakannya untuk membuat foto flatlay kece. Warna putih di kalender juga bagus kok, bersih gitu. Toh ketika di foto, orang lain nggak bakalan tahu kalau itu dari belakangnya kalender.

Rumput/Jalan Raya/Bunga/Bebatuan/Salju




Bosan dengan alas foto buatan, yuks pakai alas foto yang sudah disediakan oleh Tuhan. Rumput hijau itu bisa juga jadi alas foto yang cakep untuk foto flatlay. Nggak perlu mengeluarkan banyak uang cukup tenaga aja untuk cari lokasi di mana ada banyak rerumputan.



Konsep flatlay bukan hanya foto-foto produk yang cakep ya tapi juga foto-foto daun, bunga di atas jalanan juga bisa disebut foto flatlay (intinya sih dipermukaan datar ya). Jangan kaku deh sama istilah, kreatifitas ya cin, itu penting. 

Nah, Michelle salah satu instagramer yang saya pernah tulis di blog, juga pernah menggunakan alas foto alami seperti salju dan hasil fotonya cakep, out of the box gitu.

So, jangan bilang deh kalau mau bikin foto flatlay kece itu kudu harus beli alas foto. Nggak, kamu bisa menggunakan benda-benda di sekitarmu yang sekiranya bisa digunakan sebagai alas foto. Nanti, kapan-kapan saya mau nulis tentang properti foto yang mudah ditemukan di rumah.

Intinya sih, dalam menciptakan foto flatlay yang kece dibutuhkan banyak latihan. Percuma kalau kamu punya semua materi/produk yang oke untuk bahan foto flatlay tapi nggak ngerti cara mengaturnya. Serius, buat saya sendiri yang nggak sabaran soal menata-nata/styling, foto flatlay itu susah. Kreativitas dalam menata akan membuat tampilan foto flatlaymu akan lebih menarik.


Tetap Semangat.


Salam,

(Guest Post) Bagaimana Menulis Kalimat Pertama yang Catchy dan Bikin Pembaca Penasaran

(Guest Post) Bagaimana Menulis Kalimat Pertama yang Catchy dan Bikin Pembaca Penasaran

Menulis-kalimat-pertama-yang-catchy-menarik-pembaca


Bagaimana Menulis Kalimat Pertama yang Catchy dan Bikin Penasaran Pembaca



Hai! Iya ini, saya, Carolina Ratri. Lagi diundang sama Mbak Tikha buat nulis di blog keren nan girly ini. Hehehehe. Salam kenal ya, buat semua pembaca blog Mbak Tikha. 

Saya sih biasanya memang menuliskan tip-tip menulis, atau nggak tip-tip blogging dan media sosial gitu memang, karena saya lagi proses belajar banget di situ, dan minatnya memang ke situ. 

So, kali ini mau sedikit berbagi tentang bagaimana menulis kalimat pertama dalam artikel—baik untuk di blog ataupun artikel untuk media lain—yang catchy dan bisa bikin pembaca artikelnya jadi harus “terpaksa” membaca sampai selesai. 

Tsah. Gimana opening saya di atas? Sudah cukup bikin pengin baca sampai selesai belum? Kalau belum, ya berarti failed. Ahahahaa. Ahelah. 

Baiklah. Jadi begini ... 

Ada beberapa hal yang harus kita usahakan agar orang mau membaca artikel yang sudah kita tulis. Di antaranya adalah membuat judul yang menarik, dan yang lain adalah membuat opening artikel yang bisa "menjerat" pembaca untuk mau membaca sampai selesai. 

"Nasib" artikel kita tergantung pada beberapa puluh kata pertama yang kita sajikan dalam artikel tersebut. Jika beberapa puluh kata pertama saja sudah nggak menarik, ya ngapain orang meneruskan membaca? Betul? 

Maka dalam beberapa puluh kata pertama itulah sudah harus ada gambaran permasalahan yang jelas, dan "janji" solusi yang bisa diambil oleh pembaca saat mereka selesai membaca. 

Bagaimana cara menyajikan semua itu dalam beberapa puluh kata dalam kalimat pertama ini? 

1. Sajikan fakta yang mengejutkan 


Misalnya seperti ini: 

"Hamil di usia 40 tahun ke atas memang memiliki risiko keguguran yang lebih besar dibanding usia di bawahnya. Selain itu, kemungkinan bayi untuk mengalami down syndrome juga turut meningkat. Namun tetap saja bukan hal yang mustahil untuk memiliki kehamilan sehat dan bayi yang lahir selamat meski telah berumur 40 tahun." 

Yang di-bold, merupakan fakta yang bersifat mengejutkan. Bahwa ternyata hamil di usia 40 tahun itu risky. Nah, fakta ini akan “mengikat” pembaca yang sedang hamil, terutama mereka yang sudah berusia 40 tahun. 

Dengan membaca opening seperti itu, pembaca yang memiliki permasalahan yang sama, maka akan terus ingin tahu. Lalu baru deh selanjutnya dijabarkan, apa nih kiat-kiat hamil sehat di usia 40 tahun, misalnya. Atau, mau bikin daftar selebriti yang hamil di usia 40 tahun dan tetap sukses melahirkan anak yang sehat? Bisa juga kan? 


2. Ungkap yang biasanya menjadi permasalahan pembaca. 


Misalnya seperti ini: 

"Sudah pernah mengajak anak-anak berkemah belum? Belum? Kenapa? Malas? Kok malas sih? Karena repot harus membawa peralatan kemah yang banyak, belum lagi nanti di lokasi banyak nyamuk, susah air dan sebagainya?" 

Kata "malas" menjadi kata kunci kesalahan pembaca yang umumnya nggak terlalu sering membawa keluarga berkemah. Malas repot. Udahlah, itu umum banget jadi masalah. 

Padahal kemah bersama keluarga itu sebenarnya asyik banget. Banyak manfaatnya. Nah, dari kalimat pembuka di atas, kita terus mau apa nih? Mau kasih alasan kenapa berkemah bareng keluarga itu perlu, dan mesti dimenangkan dari rasa malas? Atau, mau kasih kiat-kiat supaya kemahnya enggak rempong? 


Baca juga:


3. Ceritakan yang biasanya menjadi masalah yang tak terpecahkan. 


Misalnya seperti ini: 

"Soalnya kadang juga bingung sih, apa sih kado untuk ibu yang baru saja melahirkan yang tepat itu? Apa yang biasanya diberikan? Kalau sudah kepepet, ya palingan nggak jauh-jauh amat dari perlengkapan mandi bayi, baju bayi, mainan, atau baby carrier. Tapi kan mainstrem, bosen itu-itu melulu. Iya nggak sih?" 

Iya, tapi apa dong? Ada ide kado apa? Nah, lalu teruskan dengan beberapa barang unik yang bisa dijadikan ide kado untuk ibu yang baru saja melahirkan. 

4. Kasih lihat hasil 


Misalnya begini: 

"Beberapa minggu lalu saya dan suami mencoba ngajak anak-anak untuk menonton film animasi yang lagi hits di bioskop. Well, this is our first time. Awalnya agak ragu sih, soalnya si kakak itu rada-rada fobia di tempat gelap. Kemarin mati lampu 5 menit saja udah teriak-teriak terus. Tapi ternyata nggak sesulit yang saya pikirkan. Si kakak, yang berusia 7 tahun, ternyata bisa menikmati filmnya meski suasana bioskop sangat gelap. " 

Kok bisa ya, anaknya tenang nonton bioskop padahal dia takut gelap? Tipnya apa nih? Duh, mau juga dong bawa anak nonton bioskop dan anteng sampai selesai. 

And then, orang pun akan mau baca sampai selesai. 


5. Cerita sehari-hari yang related/berhubungan 


Misalnya seperti ini: 

"Lagi enak-enak gosok badan, pintu digedor cuma buat nanyain, "Kaus kaki Papa ditaruh di mana, ya?" Ya ampun! Ya, di tempat biasanyalah! Masa cuma kaus kaki saja harus disiapkan juga, nggak bisa mencari sendiri sih? 

Terus, pas habis mandi, buka lemari, eh ... kok berantakan? Ya ampun, kenapa Papa nyari kaus kaki di lemarinya Mama? *tepok jidat* Akhirnya Mama mencarikan kaus kaki itu di lemari Papa. Lo, kok berantakan juga? Papa ambil baju sendiri tadi, dan main tarik saja. Aduh! Hancur deh semua yang sudah disetrika!" 

Duh, ini mamak mana nih yang enggak jengkel dengan kondisi seperti ini? Setiap ibu kayaknya juga punya permasalahan yang sama nih. Terus,apa ya yang bisa disaranin oleh penulis? 

Maka orang akan terus membaca sampai terakhir. 

6. Lontarkan pertanyaan 


“Apakah kamu sekarang lagi dalam usaha untuk menurunkan berat badan alias lagi diet?” 

Nah, contoh di atas adalah contoh dari pertanyaan yang standar sebenarnya. Tapi kalau semisal mau menulis artikelnya lebih unik, bisa ditambahkan lagi. Misalnya begini. 

“Apakah kamu sekarang lagi dalam usaha untuk menurunkan berat badan alias lagi diet, tapi tetap bisa makan es kepal Milo setiap hari tanpa merasa guilty?” 

Pertanyaan memang bisa sangat memancing, tapi coba tambahkan satu dua hal lagi yang kontradiktif, jadi bikin makin penasaran. 

Nah, itu dia beberapa hal yang bisa kita jadikan sebagai opening untuk "menjerat" pembaca agar mau baca sampai akhir. 

Semoga bermanfaat ya. Jika ada pertanyaan bisa langsung ditulis di kolom komen, saya nanti akan ngecek juga ke sini sewaktu-waktu. Semoga bisa jawab semuanya yah. 

Cheers! 

Carolina Ratri 

Penulis blog carolinaratri.com

8 Aplikasi Pendukung  Untuk Mempercantik Konten Instagram

8 Aplikasi Pendukung Untuk Mempercantik Konten Instagram

aplikasi, android, instagram, feed, kekinian, vsco



Aplikasi-Aplikasi Pendukung Untuk Mempercantik Konten Instagram



Belakangan ini saya mulai jenuh dengan media sosial. Bukan apa-apa, hanya saja saya merasa netizen jaman now galak-galak. Lebih galak dari yang punya status apalagi kalau kita sampai salah. Habis dah. 

Saya hanya menggunakan Facebook atau Twitter seperlunya atau kadang hanya ingin melihat-lihat apa yang tengah ramai diperbincangkan. Selebihnya saya jarang membuka kedua aplikasi itu. 

Saya lebih suka berselancar di pinterest atau instagram. Mencari ide-ide untuk konten-konten saya selanjutnya. Bagi saya itu lebih menyenangkan dan menenangkan. Tidak ada kebencian dan kemarahan yang biasa saya lihat di media sosial lainnya. Aman buat pikiran saya.

Oke, kembali ke topik. Intinya sih saya sekarang lebih banyak menghabiskan waktu mengurus Instagram ketimbang media sosial saya lainnya. Mulai dari memilah-milah akun yang ingin diikuti, mau isi konten apa sampai bingung dengan urusan tone warna. Saya sih inginnya orang yang mengikuti saya itu bukan karena kenal dengan saya tapi memang karena karya saya menarik.

Berbagai riset yang saya lakukan berhubungan dengan instagram. Entah berapa banyak video yang berhubungan dengan instagram/konten digital yang sudah saya tonton tiap hari. Saya ingin tahu lebih dalam soal Instagram. Bikin pusing tapi saya menyukainya.

Kalian yang sudah menjadi pengikut di Instagram pasti sudah tahu bahwa banyak perubahan yang terjadi Feed saya belakangan ini. Iyes, saya tengah melakukan banyak perombakan supaya akun saya memiliki ciri khas.

Saya bahkan mencoba berbagai aplikasi pendukung untuk membuat Konten Instagram saya menjadi lebih menarik karena bagaimana pun platform media sosial yang satu ini lebih fokus pada konten visual. Tentu saja saya tidak boleh melupakan untuk tetap belajar fotografi. Sebanyak apapun saya melakukan perubahan kalau skill fotografi saya gitu-gitu aja ya sama juga bohong.

Ada banyak aplikasi yang bisa kita gunakan untuk membantu kita membangun akun Instagram dan saya rasa setiap orang memiliki aplikasi favorit tersendiri. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas kalau saya sudah mencoba berbagai aplikasi dan pada akhirnya hanya bertahan pada beberapa aplikasi saja. Dalam tulisan ini saya hanya akan menyebutkan aplikasi apa saja yang saya pakai dan akan saya kelompokkan berdasarkan kegunaannya.

Oh iya, saya lebih suka melakukan kegiatan editing dengan menggunakan Smartphone. Jadi, aplikasi yang akan saya sebutkan nanti pasti bisa kalian temukan nanti di Playstore

Editing:

Editing Foto

Dulu, saya punya beberapa aplikasi untuk mengedit foto. Lambat laun aplikasi tersebut mulai berkurang dan hanya tersisa 2-3 aplikasi. Jika sedang rajin, saya biasa mengedit dengan dua aplikasi kalau lagi malas ya cuman pakai satu aplikasi saja.

Snapseed:

Rasanya aplikasi Snapseed ini rata-rata semua orang sudah pada tahu dan banyak pakai. Fungsi-fungsi dalamnya sudah terbilang lengkap dan mudah untuk dipakai. Saya memakai Snapseed untuk editing dasar saja, seperti menambah kecerahan, detail, dll.

VSCO


Siapa coba yang nggak kenal sama aplikasi ini? Rata-rata para instagramer pasti tahu dong VSCO. Aplikasi yang satu ini terkenal karena memiliki banyak filter-filter cantik untuk ditambahkan ke foto sehingga terlihat lebih apik.

Bagi yang memiliki tone feed seragam, kamu bisa pakai VSCO. Di pinterest ada banyak formula-formula tone yang cantik untuk ditiru.

Akhir-akhir ini saya lebih sering pakai VSCO karena mudah dan bisa langsung diaplikasikan ke banyak foto. Sadar nggak kalau filter yang saya gunakan di feed itu seragam?

Baca juga:

Editing Video

Saya memang tidak terlalu sering mengunggah konten video ke Instagram. Bisa dibilang aplikasi editing Video ini jarang dipakai.

Inshot




Aplikasi Inshot ini terbilang baru saya gunakan. Aplikasi ini berguna kalau saya ingin mengedit video pendek untuk stories atau IGTV. Mudah penggunaannya dan ada beberapa filter bawaan yang cukup mumpuni. Enaknya lagi tidak ada watermark.

Filmora





Untuk mengabungkan beberapa video pendek saya memilih menggunakan aplikasi Filmora. Pernah mencoba aplikasi sejenisnya tapi bingung ketika mau pakai. Fungsi-fungsinya cukup lengkap dan mudah dipakai. Untuk versi gratisannya terdapat watermark di akhir video.

Typhografi:


Saya menyukai konten Instagram yang berupa Quote, cuman kadang bingung mau membuatnya yang seragam/konsisten itu seperti apa. Alhamdulillah saya menemukan aplikasi yang cocok dan sampai saat ini masih saya pakai.

Phonto





Aplikasi Photo ini favorit saya untuk membuat quote karena pengunaannya mudah dan ada banyak macam huruf. Kelemahannya sih kadang suka nggak simetris kalau tulisannya panjang.

Canva

Saat saya tahu Canva sekarang ada di Playstore saya senang banget soalnya berguna banget buat saya yang buta soal infografis. Ada banyak pilihan template yang bisa gunakan. Tinggal edit dan mudah.

Layout/Feed Instagram


Saya baru-baru ini tergerak untuk mengatur tampilan/layout dari feed saya. Gara-gara kebanyakan follow akun yang feednya kece saya pun tertarik untuk mengubahnya. Belum yang kece banget sih paling tidak sudah konsisten aja polanya. Kalau isinya masih belum yang rapi dan konsisten.


Preview


Sebenarnya ada banyak aplikasi untuk mengatur layout instagram dan saya sudah mencoba semuanya. Menurut saya preview paling mudah digunakan dan sederhana. Kita hanya tinggal memasukkan foto-foto yang ingin kita atur untuk diunggah di Instagram. 

Aplikasi ini membantu banget untuk kalian yang pengin punya feed rapi dan teratur. Selain itu kita udah nggak usah bingung mau posting apa di Instagram karena kita sudah punya konten yang mau diunggah selama 9 hari.

Hastag

Instagram dan Hastag itu kaitannya erat. Hastag akan membantu foto-fotomu untuk ditelurusi oleh akun-akun lain. Hastag yang tertarget akan memudahkan kita menemukan pengikut yang juga memiliki kesamaan untuk kita.


Hashy

Algoritma Instagram yang baru mulai mengatur penggunaan Hastag. Penggunaan Hastag yang kurang sesuai akan menyebabkan fotomu tidak bisa ditelusuri. Apalagi ada fitur baru dari IG yang bisa membuat para pengguna lain menyembunyikan fotomu dari hastag yang tidak sesuai. Semakin banyak yang melaporkan maka foto kita akan dianggap spam dan berisiko di banned oleh Instagram.

Saya baru menggunakan aplikasi hastag ini beberapa bulan dan hasilnya cukup siginifikan. Aplikasi ini membantu saya untuk menemukan hastag-hastag yang relevan untuk foto-foto. Saya juga bisa menyimpan beberapa hastag baru yang saya temukan dari Instagram.

Aplikasi-aplikasi di atas hanya penunjang untuk mempercantik feed kita tapi tetap kita jangan lupa untuk terus memperbaiki konten foto dengan banyak latihan dan cari inspirasi.


Salam,
6 Bentuk Investasi Ala Bloger

6 Bentuk Investasi Ala Bloger

investasi, blogger, kotakwarna


Investasi Ala Blogger


Sebelum memiliki penghasilan, saya sudah terbiasa menyisihkan sebagian uang saku untuk membeli barang yang diinginkan. Rasanya bangga aja bisa beli barang dengan uang sendiri (padahal sih uang ortu juga hahaha). Sampai sekarang kebiasaan itu berlanjut, saya malah mewajibkan diri untuk menyisihkan hasil pekerjaan untuk membeli barang-barang yang menunjang pekerjaan. Apalagi kalau barang yang saya beli terbilang mahal, kudu ikat pinggang kencang-kencang.

Kok sering beli barang mahal?

Pekerjaan di dunia kreatif menuntut saya untuk selalu terkini dalam hal teknologi. Mau nggak mau kudu ngikutin dan kesannya hedon banget ya hidupnya. Nggak juga sih, buat saya barang-barang mahal itu sudah seperti investasi. Ujung-ujungnya kalau hasil kerjaan kita bagus pasti balik kok modalnya. 

Emang bloger butuh investasi?

Buat saya sih butuh banget. Supaya hasil kerja lebih maksimal dan mendorong saya untuk selalu menghasilkan konten-konten yang bermanfaat bagi pembaca. Siapa coba yang nggak suka punya rekening gendut? Saya juga mau.

Eh, ini bukan patokan untuk semua bloger ya. Tergantung dari individu masing-masing. Kalau saya sih investasi pasti masih berhubungan dengan pekerjaan saya sebagai bloger. 

Mau tahu. Baca sampai habis ya.


6 Bentuk Investasi Ala Kotakwarna


Template Blog

Tampilan sebuah blog memang terkadang terlihat sepele tapi dampaknya luar biasa. Sebagai pembaca tentu mengingkan sebuah tampilan blog yang minimalis, rapi dan nggak banyak atribut yang nyebelin (nyebelin di sini seperti warna terlalu menyolok, ukuran tulisan kecil, background ramai, dll) dan satu lagi adalah mobile friendly. Tentu hal ini akan membuat para pembaca betah untuk berlama-lama di blog kita. Tentu disamping konten ya. Sebab, bagaimanapun juga konten tetap raja.

Kalau mengingat seperti apa tampilan blog saya terdahulu rasanya pengin ketawa. Saya pernah kok mengalami masa-masa suram tentang tampilan blog, mulai dari efek salju, musik kencang sampai tulisan berkelap-kelip. Lantas, saya sadar bahwa kenyamanan pembaca adalah hal utama. 
Saya memutuskan untuk mengganti tampilan blog. Saya yang gaptek untuk urusan koding lebih suka menggunakan jasa pembuat template tentu disesuaikan dengan kebutuhan. Banyak sih template gratisan di luar sana, hanya saja saya lebih suka dengan template berbayar kesannya lebih berasa. Beberapa teman bloger saya ada kok yang merogoh kocek besar hanya untuk mengganti tampilan blog. 

Saya sudah beberapa kali mengganti tampilan blog (tampilan yang sekarang adalah terbaru), itu saja sudah ditunda berbulan-bulan karena ada kebutuhan lain yang lebih mendadak.


Baca artikel lainnya:

5 Alasan Blogger Harus Belajar Dasar Fotografi 

Tips Menulis Kalimat Pertama 

Cara Meningkatkan Follower Instagram Dengan Hastag 


Smartphone


Gonta-ganti ponsel alias smartphone sudah menjadi kebiasaan semenjak SMA. Saya tipenya adalah orang yang gampang bosan dan pengin selalu mengikuti perkembangan jaman yang ada. 

Fungsi ponsel buat saya bukan hanya sekadar telepon, ngobrol. Melainkan hampir semua pekerjaan kreatif (periksa email, menulis blog, bikin video, dll), saya bisa kerjakan menggunakan Smartphone. Tentunya untuk bisa melakukan semua pekerjaan tersebut dibutuhkan smartphone dengan spesifikasi mumpuni alias canggih, seperti Hp Samsung

Laptop

Laptop merupakan salah satu komponen penting untuk seorang bloger. Ada sih beberapa orang termasuk saya yang suka ngeblog lewat smartphone. Tapi tetap saja, saya butuh laptop untuk mengerjakan pekerjaan yang susah dikerjakan dengan ponsel. Saya sih ada rencana buat meng-updgrade laptop karena sedang tertarik dengan dunia editing foto. Moga-moga saja bisa kebeli tahun ini.

Kamera


Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya memutuskan untuk membeli Kamera. Alasan pertama tentu saja duit. Tentu saja itu adalah persoalan hampir semua orang. Alasan lainnya adalah belum butuh alias masih sekedar pengin alias ikut-ikutan orang saja.

Sekarang bisa dibilang keberadaan Kamera amat membantu saya dalam menciptakan konten. Konten yang apik dan ditunjang dengan gambar yang kece bisa membuat para pembaca menjadi betah. Hitung-hitung juga mengasah kemampuan fotografi.

Berhubung sudah punya kamera, saya sedang mempertimbangkan untuk membeli lensa baru. Saya anaknya gampang tergoda, apalagi melihat banyak foto-foto bagus yang berseliweran di medsos. Tapi masih mundur cantik karena membeli barang mahal tidak bisa secara spontan.

Butuh duit, cin.

Properti Foto


Saya sama Wulan suka ketawa soal kalau membahas yang satu ini. Semenjak tertarik dengan dunia fotografi, ada saja barang recehan yang pengin dibeli. Alasannya buat properti foto. Saya sendiri masih suka menahan diri ketimbang Wulan. Kata Wulan, “Bagian dari investasi, mbak.” 

Saya nggak terlalu menggila soal ini, banyak benda-benda di area sekitar rumah yang bisa dijadikan properti foto. Kembali lagi, keahlian adalah hal utama untuk menciptakan konten foto yang apik.

Ternak Blog

Seorang bloger memiliki lebih dari satu blog rasanya adalah hal yang wajar. Maklum, idealisme seringkali muncul dan pengin fokus ke salah satu tulisan saja. Saya sendiri punya 2 blog itu saja terkadang masih bingung mau diisi apa. Alasan membuat blog kedua tentu saja saya ingin mengamankan nama swastikha karena blog pertama saya tidak mengandung nama. Niatnya sih pengin branding diri, apa daya manusia sukanya banyak tapi tidak dilakukan.

Tidak semua bloger mempunya pemikiran yang sama dengan saya soal Investasi. Beberapa teman bloger menginvestasikan hasil pekerjaan ke bentuk-bentuk yang lain. Tidak semua di atas juga harus saya lakukan, saya urutkan berdasarkan asas kebutuhan. Kalau sedang tidak membutuhkan apa-apa, maka investasinya saya alihkan dalam bentuk tabungan.

Kalian di sini ada yang melakukan hal serupa? Bagi ceritanya dong.



Salam,