(Book Review) Kala Ratih, Kumpulan Cerita Pendek

kumpulan cerpen, kala ratih, books, buku, flatlay, bookflatlay, white background



Belakangan ini, mood saya untuk membaca merosot drastis. Satu buku saja nggak habis. Parah. Padahal, sebelumnya aku bisa menghabiskan 2-3 buku dalam sebulan. Sepertinya, nonton drama korea lebih menarik perhatian saya.

Demi mengembalikan semangat membaca, saya kali ini akan mengenalkan Kala Ratih. Bukan novel, melainkan sehimpun cerita pendek yang ditulis oleh 4 Alumni BEKRAF yang waktu itu mengadakan Workshop Writerpreneur Accelerate di Surabaya beberapa bulan lalu.

Sebelum membahas lebih banyak isi buku, saya kupas dulu pendukung buku ini.


Judul: Kala Ratih

Penulis: Anggi Putri, Amelia Fiza, Dean Perdana M, Rena Kharisma

Jenis: Kumpulan Cerpen

Penerbit: Reybook Media

Jumlah Halaman: 150+ hlm

Blurb:


Ada sepasang sepatu. Kiri dan kanan. Mereka tak pernah tahu siapa yang melahirkan mereka. Bahkan tak pernah tahu, siapa pencipta mereka. Dan untuk apa mereka diciptakan. (Kau Kesepianku- Dean Perdana M)

Kini, ia tahu betapa amat menyakitkan kekalahan. Sebab patah hati lebih dari semua kekalahan yang pernah ia alami selama hidup. (Jelaga di Langit Sore-Amelia Fiza)

Hidup memang sulit ditebak, seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja ia mau. Semakin berlari semakin kau dihantui. (Senja di Sendang Mada-Anggi Putri)

Tak ada yang mustahil dari takdir. Kelak bisa kembali atau selamanya pergi. (Bertolak Serasi- Rena Kharisma)


Review:


Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya bahwa Kala Ratih ini merupakan karya para alumni BEKRAF, berisi 12 cerita pendek yang ditulis oleh 4 penulis muda dengan berbagai cerita dan sudut pandang.

Jujur, awal membaca cerita pertama saya sempat merasa kebingungan tentang jalannya cerita dan apa maunya dari buku ini. Sampai pada cerita ketiga bahwa kumpulan cerpen ini mengambil Kala dan Ratih menjadi nama tokoh utama.

4 penulis muda menyajikan 12 cerita yang berbeda dengan memasukkan unsur-unsur budaya dan realita yang ada di Indonesia. Membuat beberapa cerita tersebut menjadi kaya, tidak sekadar cerita pendek biasa.

Dari ke 12 cerita, ada beberapa cerita favorit saya seperti Senja Di Sendang Made, berkisah tentang kegundahan Ratih yang harus mewarisi tradisi keluarga sebagai seorang Sinden, sedangkan ia sendiri masih ingin melanjutkan mimpi-mimpinya. Cerita lainnya yang menarik perhatian saya adalah (Tak) Jadi Kawini? Mengenai Kala dan Ratih yang ingin menikah namun terbentur akan adat istiadat yang sempat membuat kedua ingin batal menikah.

Sayangnya, saya masih menemukan beberapa kesalahan ejaan, pemenggalan kata yang tidak tepat sehingga membuat beberapa kalimat tidak nyaman dibaca. Semoga ke depannya lebih teliti ketika melakukan editing terakhir sehingga meminimalisir banyak kesalahan.

Kesimpulannya, jika kamu suka dengan bacaan yang tidak terlalu panjang seperti Novel, buku Kala Ratih ini bisa jadi rekomendasi. Membaca ini membuat saya mendapatkan beberapa pengetahuan mengenai adat istiadat dari beberapa tempat di Indonesia yang ternyata masih dilestarikan.

Salut untuk empat orang penulis muda yang sudah menelurkan buku ini, semoga selalu semangat untuk berkarya.

Jika kamu tertarik untuk membelinya, Kala Ratih, Sehimpun Cerita Pendek ini dijual dengan harga PO Rp. 55000 (Sampai akhir Oktober), harganya normalnya Rp. 62000. Setiap pembelian mendapatkan bonus gantungan kunci emoticon. Kamu bisa menghubungi instagram @anggi_putri7.
Selamat membaca,

No comments