Terpesona Dengan Bule dan Tersesat di Gambir





Holla,

Sebenarnya ini adalah tulisan lama yang kemudian saya tulis ulang kembali supaya konten di dalamnya lebih segar.

Sedari kecil saya sudah suka sama bule alias orang asing. Lupa kapan tepatnya, mungkin sejak saya belajar Bahasa Inggris dari musik barat. Secara tidak langsung karena keseringan nonton video klip dari New Kids On The Block (grup yang pernah ngehits era saya masih SD) saya jadi menyukai orang asing.


Kesukaan saya akan orang asing membuat saya seringkali bertingkah norak saat bertemu/berpapasan dengan mereka. Mata saya berbinar-binar melihat ras yang terkenal dengan kulit putih, padahal bule yang saya temui juga nggak ganteng malah lebih ke tua. Nggak tahu kenapa ya buat saya mereka itu menarik dan 'wow. Bahkan, saya pernah berkhayal untuk memiliki kekasih orang bule.

Pengin berbincang-bincang dengan mereka menjadi alasan buat saya untuk belajar Bahasa Inggris lebih giat lagi. Yap, saya selalu semangat saat berangkat kursus dan menyimak semua pelajaran dengan baik.


Ada pengalaman lucu yang berkaitan dengan bule/orang asing. Sampai saat ini kalau saya mengingatnya pasti pengin ketawa sendiri sambil mikir 'saya bego banget dulu."



Cerita ini bermula ketika kepulangan kami ke Surabaya setelah selama seminggu menemani Papi yang sedang Sekolah Perwira di Jakarta. Fyi, Papi adalah seorang Polisi aktif saat itu dan harus mengikuti Pendidikan Secapa (Sekolah Calon Perwira) dan di hari pelantikan, Papi boleh membawa serta keluarganya.

Saat kepulangan ke Surabaya, kami bersama menuju ke Stasiun Gambir bersama keluarga  teman Papi yang kebetulan juga akan pulang bersama ke Surabaya. Di saat semua orang sibuk dengan barang bawaan, saya memilih mengekor di belakang teman Papi untuk naik ke lantai 2 terlebih dahulu.

Di tengah perjalanan, perhatian saya teralihkan pada sekelompok rang asing yang jaraknya tak terlalu jauh. Tanpa sadar saya berhenti, menatap sekelompok orang berkulit pucat dengan tatapan memuja dari kejauhan. Sesaaat saya tersadar dan mulai menyadari bahwa teman Papi yang tadi berada di depan saya sudah tidak ada. Saya mulai panik, terlebih lagi saya tidak tahu harus ke arah mana.

Saya mencoba ke arah kanan, berusaha melewati kerumunan orang tapi saya berhenti melangkah. Saya nggak mau terlalu jauh dari tempat saya berhenti semula. Orang yang lalu lalang dan rasa panik yang makin menyerang membuat saya tak nyaman. Ketakutan saya semakin bertambah saat mendengar dari pengeras suara di stasiun bahwa Kereta Api Jurusan Jakarta-Surabaya akan segera diberangkat.

Seketika itu saya menangis lebih tepatnya menjerit ketakutan. Saya merasakan semua orang menatap ke arah saya. Saat itu saya benar-benar nggak tahu harus melakukan apa selain menangis. Beberapa orang mulai mengerubuti saya, bertanya apa yang terjadi. Seorang Bapak yang baik hati berinisiatif untuk membawa saya ke pusat informasi. Bapak itu sempat menanyakan identitas saya mulai dari nama dan asal kota. Sambil terisak saya menjawab semua pertanyaan Bapak itu tadi.

Allah masih berbaik hati. Bersyukur di tengah perjalanan menuju pusat informasi Papi menemukan saya. Rasanya lega banget saat melihat Papi. Papi memeluk erat, menciumi seakan-akan takut kehilangan. Di belakang Papi, ada Mami dan kedua Kakak saya. Saya memeluk Mami yang juga menangis. Kami berterima kasih kepada Bapak yang sudah menemukan saya. Saya tidak bisa membayangkan seandainya Kereta sudah berangkat dan saya tertinggal. Mungkin saya akan sendirian.


Kalau ingat pengalaman ini saya jadi malu.  Kepolosan saya sebagai anak-anak hampir membuat saya celaka dan berpisah dari orang tua.

Kalau ditanya apakah saya masih suka bule?

Jawabannya iya.

*blushing

4 comments

  1. Terpesona, eh, malah terperosok ke jalan yang salah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk. Iya mbak. Malah bikin nangis

      Delete
  2. Hahahha lucu ya, ngliatin bule sampe ketinggalan rombongan hihi


    www.ursula-meta.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya maklum mata saya langsung ijo lihat bule

      Delete