5 Hal Tentang Masa Remaja yang Wajib Diketahui oleh Orang Tua

Sunday, August 9, 2020

5 hal tentang masa remaja yang wajib diketahui orang tua, remaja, teen


Tentang Masa Remaja dan Perubahannya


Menjadi remaja itu tidak mudah.

Saya masih ingat sama-samar ketika mulai beranjak remaja, sekitar umur 10 tahunan. Semua terasa membingungkan, apalagi saya terbilang mengalami pubertas lebih awal ketimbang teman-teman lainnya.

Kalau tidak salah saat itu saya mengalami Haid pertama kelas 4 SD. Bayangkan, ketika yang lainnya masih sibuk bermain, saya sudah pusing memikirkan telah datang bulan. Kala itu saya menangis, kenapa datangnya lebih awal hingga Mami sempat ingin membawa saya ke klinik Tumbuh Kembang Remaja. Sayangnya, saat itu kliniknya tutup. Eh tapi Haidnya hanya sehari saja lalu tidak keluar lagi sampai saya kelas 6 SD (mungkin bisa dibilang itu kayak persiapan gitu lah)

Sehabis momen datang bulan, saya jadi lebih pemalu terhadap lawan jenis ya mungkin karena sudah mulai ada rasa tertarik gitu ya. Jadi, kayak nggak bisa leluasa lagi bergaul sama mereka. Haha, lucu deh.

Oke, kembali ke topik ya.

Masa Remaja itu bisa dibilang sebagai masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Dikenal dengan masa badai di mana banyak perubahan-perubahan yang nantinya kalau tidak tertangani akan membawa dampak besar bagi tahapan selanjutnya.

Lalu, harus bagaimana orang tua harus memahami remaja biar bisa mengalami fase tersebut dengan sedikit badai?

Orang tua harus paham mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di pada ada masa remaja


5 Hal Tentang Masa Remaja yang Wajib Diketahui oleh Orang Tua


Pubertas


Pubertas berasal dari bahasa latin Pubic yang berarti bulu di kemaluan.

Fase Pubertas diawali dengan tumbuhnya bulu-bulu halus di kemaluan dan ketiak, kemudian diikuti dengan perubahan fisik, seperti tumbuhnya Payudara, penumpukan lemak di beberapa area pada anak perempuan. Sedangkan, pada anak lelaki ditandai dengan membesarnya buah zakar yang diikuti perubahan suara.

Oh iya, pada masa pubertas perubahan dan perkembangan fisik yang sangat cepat seringkali membuat para remaja tidak percaya diri pada penampilan tumbuhnya, jangan heran jika di masa-masa ini mereka jadi sensitif kalau ngomongin bentuk tubuh.

Penting bagi orang tua untuk memahami perubahan fisik pada anak yang mungkin lipatan lemak yang tidak semestinya di beberapa area tubuh. Daripada mengolok anak-anak karena perubahan tubuhnya, ada baiknya mereka mulai diajarkan untuk merawat tubuh dengan cara tepat supaya tidak terjadi gangguan citra tubuh yang dampaknya akan terbawa hingga dewasa.

Banyak juga kasus-kasus yang berkaitan dengan Body Image pada remaja seperti anorexia, bulimia dan bahkan tren diet itu laris di kalangan remaja.

Selanjutnya, anak perempuan akan mengalami yang namanya menarche/menstruasi, dan mimpi basah untuk lelaki yang menandakan tubuh mereka mulai memproduksi hormon-hormon seksual yang membuat alat reproduksi berfungsi sebagaimana mestinya.

Perlu digaris bawahi oleh orang tua bahwa pubertas bukan sekedar perubahan fisik semata, poin yang penting adalah bagaimana orang tua mempersiapkan mereka selanjutnya.

Bahkan, dalam agama Islam, Akil Baligh merupakan masa yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya biar anak belajar menahan diri karena serangan syahwat.

Anak lelaki harus diajarkan langsung oleh Ayah, apa itu mimpi basah, apa yang harus dilakukan ketika mimpi basah itu datang (bersuci dari mimpi basah)

Anak perempuan harus diajari Ibu ketika menjelang remaja mengenai apa itu Haid, bagaimana cara membersihkannya dan bersuci ketika selesai haid.

Saya jadi ingat perkataan Ibu Elly Risman, Psikolog dalam sebuah seminar yang pernah saya ikuti, “Sekarang ini banyak orang tua yang lalai mengajarkan anak tentang haid dan mimpi basah. Sehingga saat dewasa, anak-anak ini tumbuh menjadi tidak malu mengumbar syahwatnya.”

Sebuah ironi.


Ketertarikan Seksual



Fase pubertas bukan sekedar perubahan fisik semata, namun juga diiringi dengan produksi hormon seksual yaitu Testosteron (pada lelaki), estrogen dan progesteron (pada wanita) yang membuat remaja mulai mengalami ketertarikan terhadap seksualitas.

Momentum yang tepat bagi orang tua untuk mulai mengenalkan pendidikan seksual pada anak yang menjelang remaja. Mereka perlu diberikan pemahaman bahwa saat mereka sudah mengalami yang namanya haid dan mimpi basah, akan ada masanya muncul dorongan seksual dari dalam tubuh.

Orang tua juga harus memberitahu kepada mereka apa resiko melakukan hubungan seksual dini dan bagaimana menekan ketika gejolak itu hadir. Mungkin ini terdengar Tabu tapi ini sebuah pendidikan yang harus dikenalkan pada mereka.

Jumlah remaja yang melakukan hubungan seksual semakin meningkat dari tahun ke tahun karena mudah akses yang didapat saat ini.

Jika dorongan seksual ini tidak diimbangi dengan pendidikan seksual yang tepat oleh orang tua akan membuat anak mencari tahu dengan cara yang salah atau bahkan mencobanya langsung.


Perubahan Emosi


Pada masa pubertas anak juga mengalami perubahan emosi yang drastis. Kerap kali membuat orang tua harus sering tarik napas karena tingkah laku mereka yang labil. Ngomong baik-baik dicuekin, dengan suara lantang malah bikin emosi, ngambek.

Mood swing merupakan salah satu fase yang akan hadir dalam masa remaja yang harus dipahami oleh ortu. Perubahan dan pertumbuhan yang pesat kerap kali membuat mereka bingung harus seperti apa. Mereka inginnya bebas bertingkah seperti orang dewasa tapi nyatanya mereka masih harus berpangku pada ortu.

Perbedaan keinginan antara ortu dan anak seringkali menyebabkan gesekan di antara keduanya, sehingga ortu memutuskan memakai kekuasaan untuk menekan mereka. Hal ini yang membuat anak tidak nyaman sehingga emosinya meledak.

Perubahan suasana hati pada remaja juga dikarenakan peran hormon, perbedaan pola pikir dan hal-hal di luar yang ikut mempengaruhi perkembangan emosi anak. Pada fase ini orang tua harus mulai mengajarkan pada anak bagaimana mengelola emosi, menjadi pendengar yang baik saat mereka ingin didengarkan.

Ngomong sama remaja itu harus tahu situasi, biar pesan yang ingin disampaikan terdengar dengan baik.


Pertemanan


Pada masa remaja, peran orang tua mulai tergantikan dengan kehadiran teman. Ortu bukan lagi tempat panutan bagi mereka. Standar baik dan benar itu kini merujuk pada pada teman.

Beberapa anak memilih hidup dengan gaya temannya. Pada masa remaja, penerimaan oleh teman sebaya merupakan hal yang penting bagi mereka, sehingga mereka kadang memilih mengikuti apa yang teman inginkan. Tak jarang membuat mereka tergabung dalam geng, kelompok-kelompok remaja.

Selain itu, tekanan teman sebaya seringkali menjadi permasalahan pada beberapa remaja. Ortu memiliki peran penting mengarahkan anak supaya menjalin pertemanan yang baik dengan mendorong mereka mengikuti kegiatan positif seperti olahraga, klub buku, klub science.


Kenakalan Remaja



Masa remaja yang merupakan proses pencarian jati diri kerap kali membuat beberapa remaja ikut terbawa arus sehingga merefleksikan dirinya dengan perilaku negatif atau yang sering dikenal sebagai kenakalan remaja.

Remaja yang nakal disebabkan kontrol diri yang lemah, krisis identitas dan kurangnya dukungan yang kuat dari keluarga sehingga mudah terbawa arus yang membuatnya melakukan perilaku yang menyimpang norma sosial-masyarakat.

Kenakalan tersebut dimulai dari yang bersifat ringan seperti membolos, tawuran, mencuri hingga penggunaan obat terlarang dan tindakan kriminal yang berat
 
Peran dan dukungan orang tua dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan bagi anak amat dibutuhkan untuk mencegah anak dari kenakalan remaja. keluarga adalah unit terkecil yang membangun kepribadian anak. Jika anak memiliki kontrol diri yang kuat, itu akan lebih membuatnua bertahan dari keadaan lingkungan luar yang carut marut.

Mendidik anak remaja memang perkara mudah, dibutuhkan banyak kesabaran dan doa-doa panjang sehingga anak bisa melewati masa remajanya dengan damai.

4 comments

  1. Bicara soal remaja, semua serba kompleks ya, Mbak. Bertahun-tahun aku mengajar BK, akhirnya memahami sumber terbesar daei kenakalan remaja itu (lagi-lagi) kembali pada keadaan di rumahnya bagaimana. Dan ngga semudah itu menangani kenakalab remaja. Labilnya mereka ini lho, yang bikin harus sering2 pny stok antisipasi

    ReplyDelete
  2. Nah ini saya harus paham benar soal karakter Salfa apalagi dalam hal emosi
    Karena sedikit banyaknya gen temperamen dari keturunanku ada ke dia.
    Hmm... Perlu belajar dari sekarang

    ReplyDelete
  3. pubertas, ketertarikan seksual, perubahan emosi dan semuanya ini berhubungan satu dengan lainnya ya mbak.

    Kayaknya memang mutlak diperlukan lingkungan yang ayem untuk menemani mereka tumbuh berkembang. Bismillah semangat parents!!!

    Tfs mbak Tika :*

    ReplyDelete
  4. Huwaaaaa... baca ini jadi degdegaaaannn.
    Anak saya cowok keduanya soalnya, sementara saya cewek bersodara, dididik dengan galak oleh bapak saya, di mana kami tuh tumbuh besar dengan kalem.

    Nggak berisik di rumah, off kors nggak boleh nakal, pubertas pastinya wanita dong.

    Dulu nggak belajar ilmu seksualitas.
    Jadinya, pas anak makin gede tuh degdegan banget.
    Kudu banyakin stock pengetahuan dan sabar deh buat anak-anak bujang ini.

    Bayangin aja, saya tumbuh besar dalam lingkungan yang kalem, nggak aneh-aneh.
    Dan anak-anak saya? masha Allaaaaaaaahhhhhhh, mau nangis rasanya, siang malam kejar-kejaran berantem, panjat-panjatan.
    Astagaaa..

    Kudu beradaptasi keras dah mamaknya.

    Dan pubertasnya nih yang bikin degdegan, anak saya cowok keduanya, bapakeh jarang di rumah.
    Saya nggak punya sodara cowok, atuh mahhh, kebayang dong blanknya :D

    Kalau perubahan emosi, mungkin masih bisa saya siapkan sejak sekarang, karena memang selalu bareng, setidaknya bisa sedikit paham dengan karakter dan cara menyikapi emosinya.

    Duuhh, jadi numpang curcol kan saya hahahaha.

    Semoga saya dan para ibu lainnya, bisa dengan bijak dan semangat menyertai anak yang menjalani masa remajanya nanti, aamiin :D

    ReplyDelete

Kotak Warna | Personal Lifestyle © . Design by Berenica Designs.