Cinta (bukan) monyet

Cinta (bukan) monyet

Err. Tema hari ini cukup kontroversial dan menyebabkan membuka kenangan tentang masa silam.

Uhuk. Baiklah

Kisah ini bermula saat saya masih unyu. Kalau tidak salah masih pakai seragam putih biru. Sebut saja namanya Adi. Dia kakak kelas yang menjabat anggota Osis. Cukup populer dan menjadi rebutan karena wajahnya yang ganteng. Tinggi, kulit putih, mata hitam agak sipit, rambut ikal, hidungnya menjulang tinggi.

Tahu kan. Seumur SMP dulu, pasti kita naksirnya sama yang kinyis-kinyis :))

Perkenalannya cukup unik. Dia sering main ke rumah karena kebetulan kakak saya ketua osis. Jadi, intinya sih saya dikenalin kakak. : Singkat cerita, kami kalau ketemu kayak anjing dan kucing. Berantem mulu. Si Adi ini hobby banget nyela saya, tapi itulah yang bikin jantung berdebar. Lagipula Adi ini termasuk womanizer dan itulah yang bikin patah hati.

Sampai suatu hari teman saya bilang kalau sebenarnya Adi ada 'rasa' sama saya.
Kapan terakhir mengirim surat

Kapan terakhir mengirim surat





beautiful-letters-love-letters-mail-pretty-Favim.com-59972.jpg

Tema yang diajukan oleh kakak ugha cukup unik dan harus mengorek informasi lama :))

Kapan sih terakhir mengirim surat?
Kalau nggak salah ingat saya menulis surat terakhir yaitu pas kuliah. Surat itu saya kirimkan untuk dua orang sahabat di mas SMA yang ada di kota Bogor dan Malang. Kami sengaja menggunakan surat karena saat itu internet belum seheboh sekarang.
Jujur. Saya ini penggemar menulis surat. Saat SD dengan tulisan tangan alakadarnya saya sering mencari sebuah nama di majalah bobo atau mentari untuk menjadi sahabat pena. Beberapa surat dibalas dan kami saling berkirim surat (koleksinya belum ketemu :( ).

Buat saya menulis surat dengan tulisan tangan memiliki sensasi tersendiri. Hati rasanya dag dig dug setiap kali mendengar suara sepeda motor Pak pos yang mengantarkan surat. Ada rasa senang setiap merobek amplop lalu membacanya perlahan dan dengan cepat mengambil kertas untuk menulis surat balasan.
Hihi. Rasanya mengagumkan dan bangga ketika seseorang menuliskan surat untuk kita. Kadang suka aku pamer-pamerin sama teman sekolah *maklum dulu masih ababil :))
Selain sahabat pena, saya suka nulis surat buat artis :D. Dengan percaya diri, beberapa kali saya menulis surat untuk mereka. Nggak terhitung jumlahnya.

Dibalas?

Nggak. Hanya ada 1 surat yang dibalas oleh Titi DJ. Saat itu rasanya senang sekali. Padahal belakangan baru tahu kalau yang balas bukan mereka sendiri melainkan manajemen.
Duit 1 M, mau dong?

Duit 1 M, mau dong?

Hai, ketemu lagi dengan saya.


Tema yang dilempar hari ini buat saya absurb banget. Soalnya saya cuman bisa berandai-andai *gigit jari.
Oke, tema hari ini adalah


Kalau kamu dikasih duit 1M apa yang akan kamu lakukan?


Kalau saya dapat duit 1M yang akan dilakukan pertama kali adalah melongo :)) Soalnya belum pernah megang uang banyak apalagi 1M dan nanya sama yang ngasih apa benar memang buatku.


Selanjutnya setelah yakin uang itu untukku, maka yang akan saya lakukan adalah:


1. Keliling Eropa.
Dari dulu saya ingin berkunjung ke benua biru itu. Menikmati 4 musim yang tidak pernah saya rasakan dan tentu saja mencari pria bermata safir. *halah.
2. Pergi Umroh bareng keluarga besar kalau perlu pesawatnya aku sewa.
3. Beli semua novel yang saya inginkan.
4. Membeli semua rumah kecil yang memiliki balkon agar saya bisa menikmati senja.
5. Beli Kamera. Saya ingin banget punya kamera hiihi.
6. Travelling ke beberapa kota


Kayaknya segitu aja deh. Kalau kebanyakan nanti malah lebih dari 1M. Rugi dong ;)) *apasih


Tulisan ini beneran absurb.


Salam hangat,


Luphyta

Kemenangan terbesar

Kemenangan terbesar

20131103-171517.jpg

Yeay. Sudah memasuki hari ke-3 itu artinya ada tema baru yang dilemparkan.
Dan, hari ini saya diberi kesempatan untuk memilih tema.
Jreng...jreng


Apa sih kemenangan terbesar dalam hidupmu?


Well. Terus terang tema ini terlintas begitu saja di benak saat bangun tidur tadi pagi dan saya rasa setiap orang pernah punya kemenangan terbesar dalam hidupnya. Jadi, tidak ada salahnya kalau kita bahas soal ini.


Kemenangan terbesar dalam hidup saya adalah ketika bisa mengalahkan ketakutan yang selama ini menjejali hidup.
Jujur. Saya dulunya seorang yang tak percaya diri. Setiap apa yang dikatakan orang tentang saya pasti akan saya terima mentah-mentah. Akibatnya saya takut mendengar penilaian orang lain.
Kalau saya tidak salah ingat. Ketakutan ini berawal saat saya duduk di bangku SMA.
Saat itu saya baru saja menjalani operasi besar dan sedikit membuat jiwa saya tergoncang. Saya menarik diri dari lingkungan dan memilih menjadi anak yang biasa saja.
Saya takut dengan semua respon orang lain terhadap kondisi kesehatan saya. Tepatnya saya muak dikasihani. Dan, sejak itulah saya tak pernah menganggap diri saya memiliki kelebihan.
Menginjak perguruan tinggi. Rasa takut itu semakin tinggi. Setiap bertemu seseorang yang dominan dari saya. Nyali langsung ciut. Entah berapa kali sahabat saya harus memberitahu bahwa semua baik-baik saja.
Yang terparah, saya paling takut bicara di depan umum. Rasanya puluhan mata seolah menjadikan saya terdakwa. Itulah sebabnya saya sering kesulitan saat presentasi.
Dan, sebuah titik balik membuat saya berubah ketika di hadapkan pada sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya memberikan pelayanan kepada orang lain.
Dari situ saya belajar bagaimana mengatasi ketakutan dan tersenyum lebar saat ada seseorang yang menghargai kita karena kemampuan yang kita miliki.
Puncaknya saat saya didaulat untuk mengikuti lomba dongeng. Di mana saya harus berdiri di depan panggung untuk bercerita di depan banyak orang.


I did it very well.


Meskipun tak juara tapi saya berhasil mengalahkan ketakutan itu. Ketakutan yang selama ini hanya membuat saya merasa 'kecil'
Lambat laun itu mengubah pola pikir saya. Bahwa saya pun bisa melakukan yang orang lain bisa. Dan, saya bangga pada diri saya sendiri.




Hidup memang keras, tapi bukan berarti kita menyerah pada keadaan. Sebab itu yang akan membahagiakanmu


Passion

Passion

What is your passion?





Passion itu bagi saya ibarat sebuah mimpi yang membuat hidup lebih bersemangat.



Bisa dibayangkan bagaimana jika seseorang tak punya mimpi untuk diraih? Mungkin hidupnya monoton.
Kalau kita tilik lebih jauh. Berapa sih di antara kita yang memilih pekerjaan sesuai hasratnya? Mungkin jawabannya jarang. Kebanyakan orang lebih memilih jalur aman yaitu bekerja seperti kebanyakan orang lainnya bahkan jauh berbeda dengan apa yang diimpikannya. Pada akhirnya yang dilakukan adalah sebagai upaya pemenuhan kewajiban. Jadi, jangan salahkan kalau korupsi ada di mana-mana.
Oke. Kembali ke pertanyaan pertama. "Apa impian terbesarmu?"


Terus terang sejak dulu saya nggak suka birokrasi. Saya lebih suka pekerjaan yang menyenangkan seperti menjadi penulis. Meskipun bagi beberapa orang pekerjaan menjadi penulis itu tidak lebih keren dari seorang dokter. Tapi, ada rasa bangga saat orang mengagumi karya kita. Rasanya seperti ada kepuasan sendiri.


Kedua orang tua saya adalah PNS. Otomatis mereka berdua juga menginginkan saya mengikuti pekerjaan mereka. Tapi, sayangnya saya bandel. Hihi. Saya lebih milih jadi penulis dan guru TK karena itu sesuai dengan jiwa saya. Beberapa orang mencibir pekerjaan saya, tapi saya nggak pernah ambil pikir.
This my own life
Bukankah Tuhan sudah mengatur semuanya?


Jalan saya menjadi penulis memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras demi mewujudkan mimpi yaitu agar karya saya bisa dinikmati banyak orang. Saya percaya kelak apa yang saya telah lakukan tidak pernah sia-sia. Lebih baik kehabisan napas mengejar impian ketimbang meratapi diri sendiri.


Karena mimpi akan tetap menjadi bunga tidur kalau kita tak pernah bergerak maju.


Jadi. Apa passionmu?

Prolog

Prolog

Hei. Selamat datang November.
Hari ini seorang kawan tiba-tiba menantang saya untuk menulis di blog selama 30 hari. Well, ini bukan kali pertama saya turut serta dalam tantangan seperti ini.
Pada dasarnya tantangan menulis setiap hari dengan tema yang berbeda itu cukup menarik. Selain melatih kemampuan menulis, juga bisa menggali ide sebanyak-banyaknya. Apalagi jika disertai deadline waktu. Rasanya adrenalin terpacu untuk menghasilkan sebuah tulisan.
Well. Saya nggak mau panjang lebar. Intinya dalam 30 hari ke depan kalian akan saya suguhi dengan tulisan yang mungkin beragam.
Jangan lupa mampir dan meninggalkan jejak. Karena apresiasi kalian memberiku semangat.

Semoga saya bisa melewati tantangan ini.

Salam Hangat,

Luphyta
Perihal Memaafkan

Perihal Memaafkan


Ketika kamu membuka hatimu untuk orang lain. Bersiaplah untuk terluka



Tak pernah mungkir bahwa kerap kali kita terluka oleh orang lain. Entah itu pasangan, sahabat, keluarga atau oleh diri kita sendiri.


Entah berapa banyak luka yang sudah kita goreskan pada hati kita. Mungkin kalau bisa protes si hati akan memasang lapisan pelindung, tapi sapa yang bisa menolak rasa sakit.


Bukankan Tuhan menciptakan rasa sakit sepaket dengan kebahagiaan?


Jika pada akhirnya hati kita terluka masa satu-satunya jalan adalah dengan memaafkan



Memaafkan memang bukan perihal mudah apalagi jika kita berada di posisi yang terluka. Memaafkan ibarat menarik dengan paksa luka yang masih menganga lebar. Menyakitkan.
Namun, rasa sakit perlahan akan Menghilang.  Karena sebagian dari diri kita tanpa sadar telah merelakan rasa sakit untuk pergi. Ya. Memaafkan erat kaitannya dengan merelakan diri kita untuk berdamai dengan rasa sakit.


Jadi, maukah kamu memaafkan orang di sekitarmu?