Kotak Warna: Menjadi Orangtua Bijak

Wednesday, April 13, 2016

Menjadi Orangtua Bijak


"Anak saya nilainya kok jelek-jelek ya? Padahal saya sudah ikutkan les privat"
****
"Kamu tu ya. Mama udah ikutkan les. Masih aja nilaimu gitu-gitu aja!"

Saya tergelitik. Tiap kali ada orangtua yang datang menanyakan perkembangan belajar anaknya yang lambat.

Biasanya jika ada pertanyaan seperti di atas. Saya akan menyarakan supaya anak-anak tersebut diajari sendiri oleh orangtuanya.

Bagaimanapun orangtua adalah sosok yang paling mengerti tentang anaknya. Bukan orang lain. Herannya, kebanyakan mereka tidak tahu cara menangani anak-anaknya.

Para orangtua lebih suka memasrahkan kepada orang ketiga. Dengan begitu mereka bisa menyalahkan orang lain saat perkembangan anaknya tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Orangtua kerapkali menyalahkan anak ketika hasil yang didapat tidak seperti keinginan mereka.

Tanpa mereka sadari bahwa kesalahan itu terletak di tangan mereka sendiri.

Parents,

Sebagai orangtua sudahkah kita mengintrospeksi diri?

Apakah kita sudah mendidik anak-anak kita dengan tepat? Apakah sikap kita selama ini bisa diteladani oleh anak-anak? Apakah kita sudah mendoakannya untuk menjadi anak yang baik?

Coba kalian ingat.

Berapa banyak kalian memeluk mereka? Menenangkan mereka di kala gundah? Membangkitkan kepercayaan dirinya ketika dia disakiti orang lain? Apakah kita sudah menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman untuk mereka?

Sudahkah kita lakukan itu?

Sebagai orangtua tanpa disadari kita tumbuh menjadi pribadi yang egois. Merasa sudah mencari uang dan membesarkan anak-anak. Hingga terkadang tak ingin disalahkan saat mereka gagal.

Menjadi orangtua tidaklah mudah. Ketika Anda menuntut anak-anak untuk terus belajar. Sudahkah kita belajar menjadi orangtua yang baik?

Paling tidak bertanya pada diri kita sendiri.

Apakah aku orangtua yang baik?

Coba tanyakan pada hati kecil kalian. Seberapa baikkah menjadi orangtua.


12 comments:

  1. Sepakat mba saat ini kebanyakan menyalahkan orang lain ketibang koreksi diri mengakui kesalahan pribadi. Menekan anak mjd obsesi ortunya tnp menyadari kemampuan anak sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringkalinya sih begitu mbak. Ya..harus lebih banyak belajar lagi

      Delete
  2. Bijak gak ya? Insya Allah sih bijak .. (*nyengir)

    ReplyDelete
  3. Betul mbak. Aku dulu pas masih kerja di sekolah jg sering menemukan ortu macam gini. Sukanya menyalahkan pihak sekolah, pdhl dianya sendiri blm mjd ortu yg baik bagi anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan ortu nggak menyadari pentingnya peran serta mereka karena merasa sudah membesarkan

      Delete
  4. Bagus mba Tika, saya jd belajar sedini mungkin.
    Wah jadi terinspirasi dari tulisan ini :)

    ReplyDelete
  5. Gimana ya... Kayaknya aku masih belum jadi orang tua yang baik, mungkin pertama aku harus nikah dulu. Hehe

    ReplyDelete
  6. Bnr mbak, memasrahkan k org laen utk hal2 yg msh bs dilakukan sndri sbtlnya cm cara menghindari perasaan bersalah saat si anak gagal nanti, jd bs menyalahkan org laen.

    ReplyDelete