Rokok Harus Mahal, Supaya Anak Indonesia Berhak Atas Gizi yang Layak





Rokok adalah Masalah Nasional 


Saya beruntung dilahirkan dalam keluarga Non-Perokok. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau memiliki Ayah yang perokok. Kebiasaan merokok bukan masalah yang mudah disembuhkan layaknya orang sakit kepala. Minum obat lalu permasalahan sakitnya selesai. Perilaku merokok lebih mengarah pada kecanduan dan akan sangat susah diatasi kalau tidak dari keinginan orang itu sendiri. Diam-diam saya bersyukur Papa menderita asma, setidaknya beban dalam keluarga kami tidak bertambah.

Bicara soal rokok memang tidak pernah habisnya, perilaku rokok bukan lagi masalah Indvidu tapi juga menjadi masalah nasional yang harus segera diatasi karena dampaknya menyangkut hidup orang banyak. Ada banyak isu-isu yang berkaitan dengan perilaku rokok mulai dari isu kesehatan, sosial dan ekonomi. Lihat saja, sebatang rokok yang katanya ‘nikmat’ ternyata mampu membuat repot banyak orang.

Dampak asap rokok tidak hanya mengganggu kesehatan penggunanya, namun juga lingkungan sekitar yang tidak menghisapnya. Sebut saja penyakit jantung, kanker, dan penyakit mematikan lainnya adalah sebagian dari dampak asap rokok. Tidak hanya itu asap rokok terbukti memiliki pengaruh dalam perkembangan anak. 

Saya tercengang saat mendengarkan Siaran Ruang Publik KBR, Rabu, 25 Juli 2018 dengan pembicara Dr. Bernie Endyani Medise, SpAK MPH (Ketua Satuan Tugas remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan Teguh Dartanto, PhD (Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia) yang membahas tentang Rokok Murah Penyebab Stunting Pada Anak. Dari hasil Penelitian yang dilakukan oleh Teguh Dartanto bersama Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia didapatkan konsumsi rokok orangtua dapat menyebabkan Stunting pada Anak. Kejadian ini banyak ditemukan pada keluarga miskin.



Stunting adalah kondisi masalah gizi kronis yang diakibatkan oleh kurangnya azupan gizi dalam jangka waktu lama, biasanya terjadi karena asupan makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting mulai terjadi sejak dalam kandungan dan baru terlihat sejak anak usia 2 tahun.

Penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan berat dan tinggi badan anak-anak (<5 tahun) pada tahun 2007, lalu kemudian diulang lagi di tahun 2014 secara berurutan untuk mengamati dampak dari perilaku merokok orangtua dan konsumsi rokok pada stunting. Hasilnya cukup memprihatinkan, “anak-anak yang tinggal dengan orangtua yang tidak merokok akan tumbuh 1,5 kg lebih berat dan 0,34 cm lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tinggal dengan perokok kronis.” Temuan ini menunjukkan perokok aktif/kronis memiliki probablitas anak-anak pendek atau kerdil dengan mempertimbangkan faktor genetik dan lingkungan anak.

Hubungan Antara Rokok dan Stunting Pada Anak


Bagi perokok berat, seolah ada yang hilang dalam hidupnya tanpa kehadiran rokok. Itulah kenapa mereka akan melakukan apapun demi kebutuhan rokoknya tetap terjaga, aman. Mereka rela memotong anggaran belanja demi memuaskan dahaga akan rokok sehingga berdampak pada menurunnya pembelian kebutuhan dapur seperti telur, beras, susu, dll. 

Saya pernah bertemu seorang Bapak Tua penjual Jagung Rebus yang berjualan menggunakan sepeda. Di tangannya, Beliau mengapit sebatang rokok sambil mengisapnya dengan santai.

Bapak udah tua kok masih merokok?” Saya yang penasaran akhirnya bertanya.

Mau tahu apa jawabannya? 

“Saya lebih kuat jualan kalau sambil merokok,” jawab Beliau sambil memamerkan giginya yang ompong.

Oalah, Pak. Udah kerja keras begitu malah uangnya habis untuk merokok. Saya hanya bisa mengelus dada mendengar jawaban beliau. Tentu saya bukan orang yang berhak mendebat hanya saja kok ya rasanya gimana gitu. Pekerjaannya yang sudah keras harus dibakar begitu saja menjadi asap.

Bapak ini bukan satu-satu. Ada puluhan juta perokok yang mengalami masalah serupa. Menomorsatukan rokok dibandingkan kebutuhan yang lain dengan alasan tanpa rokok mereka tak semangat bekerja. Logika yang aneh untuk kita non perokok.

Bisa dibayangkan kalau kondisi ini terjadi pada orangtua dari keluarga miskin yang merokok?

Dengan gaji yang sangat terbatas, mereka harus rela memangkas uang belanja demi kebutuhan rokoknya. Keluarga dan anak-anak yang masih dalam pertumbuhan dibiarkan mengonsumsi makanan yang jauh dari nilai Gizi. Akibatnya anak akan mengalami kekurangan nutrisi yang akan berdampak pada perkembangannya.

Seperti yang diceritakan oleh Teguh Hartanto bahwa ada sebuah keluarga yang Bapaknya memiliki penghasilan Rp. 60.000, yang kemudian dialokasikan Rp. 40.000 untuk rokok (tolong digarisbawahi) sisa Rp. 20.000 untuk mencukupi kebutuhan hidup.  Lalu, mereka bisa dapat gizi apa dari duit Dua Puluh Ribu di saat harga kebutuhan merangkak naik. Menyedihkan.

Masalah gizi kronis tidak hanya menghambat perkembangan fisik anak tapi berdampak besar pada penurunan perkembangan kognisi anak. Anak akan mengalami penurunan kecerdasan dan gampang sakit. Jika anak mudah sakit, tentu akan menambah beban berat bagi keluarga. Tidak hanya menganggu perekonomian keluarga juga membawa masalah keharmonisan dalam rumah tangga.

Asap rokok yang dihasilkan dari pembakaran juga akan menghambat proses penyerapan nutrisi makanan oleh tubuh. Akibatnya, sari-sari makanan yang harus terserap sempurna menjadi banyak terbuang. Kondisi ini akan makin memperburuk kesehatan anak. Seperti Peribahasa Sudah Jatuh Tertimpa Tangga. 

Rokok Harus Mahal, Agar Anak-Anak Mendapatkan Gizi yang layak

Saya tahu permasalahan Merokok ini tidak akan mudah selesai dengan cepat karena ada banyak kepentingan-kepentingan di dalamnya yang harus diperhatikan. Industri rokok tidak hanya melibatkan produsen tapi juga para petani yang mencari nafkah dari Industri ini.

Saya setuju dengan kenaikan harga rokok. Harga rokok yang semakin tinggi akan membuat para perokok berpikir dua kali untuk membelinya terutama di kalangan pelajar karena selama ini mereka masih bisa membeli dalam bentuk eceran yang harganya 1000/batang.

Akses yang mudah dalam mendapatkan rokok membuat jumlah perokok muda makin bertambah. Ada baiknya pemerintah memperketat aturan tidak menjual rokok dalam bentuk eceran dan mendenda toko/lapak yang menjual rokok pada anak di bawah umur.

Jika kita tidak bisa mengubah dunia. Mulailah dari hal yang dekat yaitu keluarga. Anak adalah peniru yang ulung, banyak dari keluarga perokok yang akhirnya memiliki anak perokok juga. Bukankah itu artinya Orangtua sudah merusak kehidupan anaknya sendirilah.

Untuk orangtua yang masih merokok, mari kita hentikan jika Anda masih sayang dengan masa depan anak-anak. Anak-anak Anda kelak akan menjadi generasi harapan bangsa. Jangan rusak mimpinya sejak dini.


Merokok tidak hanya membunuhmu, tapi juga orang lain.

4 comments

  1. Setuju banget tuh, kalau harga rokok harus dinaikin. biar yang mau beli rokok harus mikir-mikir dulu :)

    ReplyDelete
  2. Kasihan sama orangtua yang berpenghasilan sedikit, tapi anaknya minta uang cuma untuk buat rokok :)

    ReplyDelete
  3. Banyak tuh keluarga yang berpenghasilan sedikit tapi beli rokoknya gak nanggng-nanggu. alhasil untuk makan malah gak ada uang :) Rokok memang berbahaya banget ...

    ReplyDelete