Kotak Warna: I am Happy With My Own Way

Thursday, June 23, 2016

I am Happy With My Own Way


Bukan hanya sekali Mama meminta Saya untuk mengikuti Tes CPNS. Dan, saya selalu menolaknya dengan tegas. Bukannya apa-apa. Sejak dulu tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk menjadi PNS. Saya bukanlah orang yang suka dengan rutinitas yang monoton. 

Tidak hanya Mama, Kakak perempuan saya pun pernah menyarankan untuk mengikuti Tes CPNS. Kata Dia mumpung uisa saya belum 35 tahun. Nggak ada salahnya untuk mencoba. Lagi-lagi saya menolak. Kali ini saya menjawabnya dengan jelas,"PNS bukan mimpiku dan aku nggak suka." 

Saya hidup di lingkungan PNS. Ibu saya seorang Guru dan Ayah saya seorang Purn. Polisi. Kakak perempuan saya seorang Dosen di salah satu Universitas Negeri di Surabaya. Lihat, kan. itulah kenapa mereka pun menginginkan hal yang sama pada saya.

Ah. Saya mengerti bahwa orang di sekitar menginginkan supaya saya mendapatkan hidup yang lebih baik. Kata mereka setidaknya saat kamu menjadi PNS, masa tuamu terjamin.

Sayangnya, Saya memilih jalur yang berbeda. Saya memilih jadi Guru Taman Kanak-Kanak. Saya menyukai pekerjaan ini karena saya suka anak-anak. Berada di dekat mereka seolah-seolah saya berada dalam dunia tanpa beban. Apalagi kalau ada salah satu dari murid-murid yang begitu memujamu.

Alasan yang lainnya kenapa saya memilih menjadi Guru Taman Kanak-Kanak adalah jam kerjanya yang relatif pendek alias setengah hari.

Sehabis bekerja saya bisa melanjutkan kesukaan yang lain yaitu menulis blog. Ah. Rasanya menyenangkan. Capek setelah bekerja tergantikan dengan membaca komentar-komentar dari pembaca. Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Sungguh. Saat kamu melakukan apa yang kamu sukai. Rasanya melebihi apa pun. Saya dikelilingi teman-teman baru yang luar biasa yang melihat kemampuan saya. Saya memperkaya diri dengan ilmu-ilmu baru. Terpenting lagi, inilah wujud aktualisasi diri yang saya lakukan.

New Experience

Dulu, saya adalah bukan siapa-siapa. Sekarang, setidaknya orang mengenal saya dari tulisan.

Cara menikmati hidup

Saya menutup telinga dari pembicaraan orang lain. Saya memilih bahagia dengan cara saya sendiri.

Bahagia kita yang menciptakan sendiri.


Teman-teman yang luar biasa


Salam hangat,

Tikha


14 comments:

  1. Mungkin kita memang suka hal-hal out of the box kali ya? Suka berpikiran nyeleneh yang tidak bisa dipahami orang lain. Kalau saya sih seperti itu. Tanpa saya sadari, saya ingin berbeda. Saya ingin mencapai sesuatu tanpa bantuan orang lain, atau paling tidak saya ingin membuktikan kalau saya bisa.

    Ah, di mana-mana curhat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ingin melakukan pekerjaan disukai. Sebab itu yang membuat kita selalu bersemangat.

      Delete
  2. Salut sama pilihanmu, mba Tikha ^^ wah aq br sadar dirimu guru TK... Ehehehee... Kirain full time blogger. Yosh, smangat!!

    ReplyDelete
  3. Mungkin lingkungan kita belum terlalu familiar dgn era hidup kita saat ini. Kita sebagai geberasi millennial, pilihan pekerjaan yang kita pilih cenderung berbeda dari yang umumnya dilakukan. Kita lebih memilih pekerjaan yang memiliki hubungan dengan internet dll. Dan, tidak seorang pun boleh menjudge apa yg pilih menjadi bagian dalam hidupnya. Selamat mba Swastika yang sudah menemukan jalan hidup yang mba sukai. Sukses terus

    http://adhariabroader.blogspot.com.tr/2015/09/generasi-millennial_12.html

    ReplyDelete
  4. Jadi diri sendiri dan tidak tergoda arus, kadang emang tantangan nya justru dari lingkungan sekitar. belum lagi pandang kuno yg mengatakan namanya kesuksesan dan jaminan masa depan itu ya kerjaan kantor dgn siap gaji bulanan yg besar :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Kalau nggak kerja di kantor itu namanya pengangguran

      Delete
  5. Lho cerita pengalaman mbak Tika mirip sama cerita pacarku, dia juga dipaksa jadi PNS sama keluarganya. Tapi dia kekeuh untuk bergelut di dunia maya, hahaha. Cerita pengalaman yang inspiratif mbak, semua pilihan yang kita pilih dalam hidup ini kita juga yang akan mempertanggung jawabkannya. Semangat ya mbak, bahagia selalu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat. Iya, orang tua ingin anaknya hidup nyaman. Tapi anaknya ingin mengambil jalur yang berbeda :)

      Delete
  6. Hihi agak sama mb, dulu ibuk kuatir banget kalo putrinya ini ga jadi pns, setiap ketemu pasti digiring giting ke pembahasan cpns hihihi
    Cuma dalam hatiku sekarang blum ada feel, hmmm

    ReplyDelete
  7. Aku juga dipaksa ikut CPNS sama bapak, berkali-kali menolak tetap saja tidak pernah mengerti. Haruskah aku mengikuti keinginan mereka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang tua kita mungkin belum mengikuti perubahan jaman. Bahwa generasi sekarang lebih suka pekerjaan yang bebas.

      Coba ngomong perlahan saja sama bapak. Insya Allah dimudahkan.

      Delete