Kotak Warna: A Love Letter to Drew

Wednesday, February 10, 2016

A Love Letter to Drew

alone,  broken heart, #30HariMenulisSuratCinta
Taken From
Dear Drew,

Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya memberitahu mengenai perasaan yang pernah kurasakan padamu. Kala itu aku tak pernah mendapatkan kesempatan secara langsung dan aku merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat.

Kamu pernah merasakan jatuh dan patah hati sekaligus?

Aku pernah, Drew. Merasakan pipiku memerah karena cinta tapi beberapa waktu kemudian perasaan itu jungkir balik menjadi nyeri di dada. Rasanya seperti kamu menelan sebuah permen yang manis dan kemudian permen itu berubah menjadi rasa asam yang pekat. Membuat lidahmu kebas. Seperti itulah rasanya, Drew.

Kamu tahu siapa yang aku maksud?

Tentu saja kamulah orangnya.

Aku masih ingat kita janji bertemu di Kafe dekat kampus. Aku datang terlebih dahulu karena sedang tidak ada jadwal kuliah. Aku menunggumu dengan secangkir minuman favoritku. Coklat panas dengan bubuk kayu manis di atasnya. 

Aku menunggumu dengan gelisah. Perutku terasa penuh dan mulas. Bukan karena sakit tapi karena hari itu aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Aku memang sudah memutuskan untuk mengakui rasa yang selama ini tersimpan.

Andai kamu tahu bagaimana rasanya meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak ada salahnya seorang wanita menyatakan perasaan terlebih dahulu?

Semalaman suntuk aku gugup di atas tempat tidur. Dengan pipi merona dan jantung yang berdebar tiap kali memikirkanmu. Sembari membayangkan akan seperti apa pengakuan cintaku nanti. Ah, rasanya campur aduk.

Sampai kita bertemu. Kamu datang terlambat beberapa menit karena tugas kuliah yang harus kamu selesaikan saat itu juga. Aku membiarkanmu memesan minuman kesukaanmu. Kopi hitam tanpa gula. Sembari diam-diam memandangi punggungmu dari kejauhan.

Semua dibuka oleh pembicaraan kuliah. Sampai kamu mengatakan sesuatu yang membuat bibirku kelu. "Aku suka pada Rara."

Detik itu juga seluruh perasaanku menguap entah kemana. Perkataan yang sudah kurancang sejak semalaman lesat seperti uap kopi milikmu. Entah mengapa rasanya tak adil merusak kebahagiaanmu. Terlebih lagi matamu bersinar saat berbicara tentang Rara.

Apalah aku ini, Drew. Aku hanyalah seorang teman bagimu. Waktu itu pun aku memutuskan untuk memendam perasaan ini diam-diam. Biarlah aku yang menanggung rasa ini sendiri. Toh, kata banyak orang cinta itu terkadang tidak bisa dimiliki.

Tapi aku salah, Drew.

Menyimpan perasaan sendiri itu perih. Aku ingin memberitahumu satu hal, Drew.
"aku menyukaimu seperti aku menyukai secangkir coklat. Kamu tahu sendiri, kan? Seperti apa aku menggilai coklat."  :)

 Kalau kamu menerima suratku ini dan selesai membacanya. Temui aku di kafe kesukaaan kita. Aku menunggumu dengan secangkir coklat hangat.



Sincerenly,

Milana

2 comments: