Let me do with my own way

Kepada Kamu,
Silahkan kamu pergi dari hatiku, tolong kau bawa serta rasa nyeri yang seringkali mendiami ulu hatiku.
Aku ingin bahagia



Salam

Aku

Berkemas

Hai Luka, yang masih mendiami sudut hatiku. Mari kita berkemas! Cinta baru sudah menunggu di depan sana.
Aku merindu, kamu tidak. Lalu kita sama-sama beradu punggung

tentang (tak) memilikimu

Besok, tak akan ada lagi kenangan akan dirimu

Besok, tak akan ada lagi mimpi tentangmu

Besok, tak akan ada lagi sapaan hangat darimu

Besok, tak akan ada lagi cerita tentangmu



Ketika terbangun nanti, kamu tak lagi milikku



...dan aku harus berjuang untuk tabah

Ada (tidak) rindu?

Di sela-sela rinai hujan, pernah kugugurkan sehelai rindu untukmu yang kutitipkan pada lirihnya aliran air.

Adakah hujan  telah menyampaikannya kepadamu?


Mungkin tidak...!
Karena tak pernah kutemukan jawaban rindu darimu, baik yang disampaikan oleh bulir-bulir hujan atau pun desahan angin.
Lalu kemana …

Di bawah rinai hujan

Di bawah rinai hujan, telah kuluruhkan semua kenangan tentangmu
Di bawah rinai hujan, telah kugugurkan semua rasa kepadamu
Di bawah rinai hujan, telah kugugurkan semua kegundahan hati

Kepada Pria Senja,
Tahukah kamu di bawah rinai hujan, tangisku telah luruh berkali-kali --karenamu?

Semanis gulali

Cinta itu serupa angin yang mengendap-endap tanpa permisi

Menyemaikan bibit-bibit rindu pada jiwa-jiwa yang sepi

Meninggalkan semu merah pada tulang pipi para pengagum cinta



Cinta semacam candu

Memabukkan

Cinta, semanis gulali yang lengket tapi mencandukan