Kotak Warna: Ngeblog atau Ngefiksi? Mana yang Lebih Menggoda?

Sunday, November 5, 2017

Ngeblog atau Ngefiksi? Mana yang Lebih Menggoda?



Holla,

Beberapa hari ini saya lebih suka bersembunyi dalam kamar sampai sore hari lantaran asyik membaca buku. Berkat sebuah teknologi bernama Scoop saya bisa membaca puluhan buku-buku dengan harga yang hemat di kantong. Emang sih saya nggak bisa memiliki buku digital ini selamanya tapi setidaknya itu bisa memuaskan kebutuhan saya akan buku. Saya tidak keberatan membayar untuk buku.

Membaca buku tenyata membuat saya gelisah. Saya tiba-tiba rindu untuk menulis fiksi. Saya rindu tokoh-tokoh imajiner itu hadir dalam benak saya. Dan, kemarin salah satu tokoh yang sudah lama berada di dalam peti es itu mendesak keluar. Dia membuat saya tak bisa tidur. Namanya selalu bergema dalam benak membuat tidur tak nyenyak.

Jauh sebelum saya aktif menulis blog, saya ini adalah penulis fiksi. Tak terhitung berapa banyak tokoh rekaan yang saya ciptakan dan berapa banyak tulisan yang hanya tersimpan dalam hardisk. Salah satu cita-cita saya yang belum kesampaian adalah menelurkan sebuah buku atas nama saya sendiri. Saya rindu benar-benar rindu.
Saat itu saya merasa bahagia. Bahagia karena bisa menciptakan dunia untuk tokoh yang saya buat. Seperti seorang Tuhan dengan t kecil. Menciptakan dunia dengan kata-kata. Tapi sayangnya semangat menulis saya sempat kendor gara-gara naskah saya 'dibantai' oleh seseorang. Sebenarnya saya memberikan naskah itu pada dia dan saat membaca komentar-komentar itu saya jadi sedih.

Saya melarikan diri dari dunia fiksi. Saya kehilangan semangat. Saya menyimpan rapat-rapat semua tulisan yang pernah saya tulis. Saya memilih menulis blog. Blog itu semacam pelarian dan tempat saya belajar tentang menulis. Ternyata saya terjebak. Saya memilih menenggelamkan diri dalam dunia blogger. Saya suka menyebut diri sebagai penulis fiksi yang terjebak di dunia blogger.

Keinginan menulis fiksi itu kini kembali dan saya tergoda. Saya ingin kembali menusuri kenangan melalui tokoh imajiner yang saya ciptakan. Saya ingin tersesat dalam sebuah cerita. Sepertinya itu sangat menggoda.

Haruskah saya mengikuti ini?


Salam,

9 comments:

  1. 😂 menulis fiksi, seru banget sama kayak ngeblog, ya risetnya, ya belajar nulisnya, ya buat alur plotnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget mbak. Berasa jadi sutradara

      Delete
  2. Lanjutkan berkarya menciptakan tokoh imajiner mbak...

    ReplyDelete
  3. Sama kak ingin menulis cerita fiksi dan bermain peran sebagai tuhan. Tapi api semangat menulis tak pernah berkobar, lantaran terjebak dalam miskin nya kosakata :(

    ReplyDelete
  4. Menulislah apa yang ingin kau tulis, mbak ^^

    ReplyDelete
  5. Menulislah apa yang ingin engkau tulis, mbak ^^

    ReplyDelete
  6. Aku bisa memahami perasaan ini Mbak karena dulunya pun aku begitu. 😁 Pas SMA suka sekali menulis fiksi karena dengan menulis aku bisa bikin ending sendiri atas ketidakpuasan takdir di dunia nyata 😝 Sayang aku udah lama memilih pergi meninggalkan fiksi. Tapi gak apa, aku sendiri lebih nyaman blogging 😁 Kalo semangat Mbak Tika masih bergelora, lanjutkan! Toh ada wattpad. Syemangatss! 🔥🔥

    ReplyDelete
  7. Kalo aku nulis nya yang real di sekitar kita, supaya kita peka akan realitas yang ada di masyarakat. bagus bangaet tulisannya.

    ReplyDelete