Kotak Warna: Anak Belajar Banyak Bahasa, Kenapa Tidak?

Wednesday, July 19, 2017

Anak Belajar Banyak Bahasa, Kenapa Tidak?



Anak Belajar Banyak Bahasa, Kenapa Tidak? 


Saya beruntung berada di dalam lingkungan keluarga yang mendukung dalam banyak hal. Mami dan Papi selalu berusaha supaya ketiga anaknya tidak merasa ketinggalan seperti anak lainnya. Emang terlihat seperti orangtua yang egois di mana memaksa anak-anaknya mengikuti ini itu. Belakangan, saya menyadari bahwa mereka ingin anak-anaknya berkembang, termasuk soal bahasa.

Bicara soal bahasa, di rumah kami ada sebuah peraturan khusus. Di mana kami harus menggunakan menggunakan Bahasa Madura sebagai bahasa sehari-hari. Kalau di luar rumah mah urusanmu. Menurut Mami, peraturan itu dibuat supaya kita lebih menghargai bahasa daerah. Sampai sekarang saat pulang ke kampung halaman, kami selalu berusaha berkomunikasi menggunakan bahasa Madura.

Masih soal bahasa. Di era saya masih mengenakan seragam merah putih, Bahasa Inggris itu adalah bahasa dewa. Melihat orang-orang yang bisa berbahasa Inggris sering membuat saya terpana. Maklum, di Madura sendiri saat itu belum ada pelajaran Bahasa Inggris untuk Sekolah Dasar. Kalau tidak salah saat itu hanya berlaku di Surabaya.

Saya masih ingat, Mami memasukkan saya ke sebuah lembaga kursus. Hanya dua orang siswa yang masih Sekolah Dasar dan sisanya kebanyakan Siswa SMP. Alasan Mami memasukkan saya ke lembaga kursus saat itu adalah Mami ingin saya menguasai bahasa lain. Waktu itu itu terlihat masih terlalu muda ya, padahal era sekarang bocah umur 3 tahun aja udah masuk kursus.

Baca juga: How I Learn English

Sebenarnya Boleh Nggak Sih Mengenalkan Bahasa Asing Sejak Dini Pada Anak?



Sabtu, 15 Juli 2017 kemarin saya mendapatkan undangan dari English First yang bertempat di Food Society Pakuwon Mall Surabaya, EF mengadakan sebuah  sebuah talkshow yang berrtajuk "How to help your Kids Learn English." dengan Pembicara Roslina Verauli, S.Psi, M.Psi, Psikolog dan brand Ambasador EF yaitu Darius Sinathrya dan Donna Agnesia.

Dalam acara ini Mbak Verauli banyak menceritakan kecemasan-kecemasan orangtua tentang mengenalkan bahasa asing sejak dini pada anak. Beberapa orangtua yang hadir mengemukakan bahwa mereka takut anak-anak akan mengalami bingung bahasa, lambat bicara dan sebagainya.

Menurut Mbak Verauli, ada banyak mitos yang berkembang di luar sana tentang kemampuan berbahasa anak yang seringkali membuat orangtua cemas padahal itu belum tentu benar adanya. 

Mitos pertama: Bayi harus mengenal bahasa ibu dulu


Faktanya: Golden Moment perkembangan area  bahasa pada korteks otak justru berkembang di 6 tahun pertama, dengan puncaknya di 1 tahun pertama kehidupan bayi.

Menurut mbak Verauli, perkembangan bahasa anak mengalami peningkatan mulai dari usia 0 dan mengalami penurunan ketika berusia 6 tahun.

Begitu bayi lahir, Suara Orangtua dan lingkungan adalah sumber belajar bahasa. Anak mengencoding semua suara yang dia dengar dalam ingatannya. Jadi, jangan salah kalau anak yang terbiasa didengarkan lagu bahasa Inggris sejak dalam kandungan akan mengingat ketika diputarkan lagu itu lagi setelah dia lahir.

Usia Golden Moment menurut Verauli adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan bahasa lain karena lebih efektif. 

Hmm. Dipahami ya, Ma.

Mitos Kedua: Bayi Billingual akan mengalami keterlambatan bicara (speech delay)


Faktanya: Keterlambatan bicara dipengaruhi oleh berbagai hal, misalnya kurangnya stimulasi pada anak, ada masalah biologis pada perkembangan otaknya.

Menurut teori Noam Chomsky bahwa di dalam otak terdapat LAD (Language Acquisition Device) yang memungkinkan bayi melakukan 'analisis dan memahami aturan dasar' bahasa yang mereka dengar. Bayi memiliki kapasitas bawaan menguasai bahasa.

Jadi, setiap bayi itu memiliki kapasitas bawaan dalam menguasai bahasa. Tergantung berapa banyak dia mengenal aneka bahasa yang ada. So, don't worry ya moms.

Mitos Ketiga: Anak Bilingual Alami Bingung Bahasa


Faktanya: bingung bahasa adalah bagian dari proses menguasai dengan baik. Seiring waktu nanti akan menghilang dengan sendirinya.

Berdasarkan penjelasan Mbak Verauli di atas bahwa tidak masalah mengenalkan aneka bahasa sejak dini. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan. Mbak Vera menekankan bahwa untuk mengoptimalkan upaya penyerapan bahasa asing pada anak dibutuhkan komitmen, konsistensi dan system support di sekitar anak.

Untuk mengatasi anak yang masih suka bicara campur-campur antara bahasa Inggris dan Indonesia atau kurang jelas dalam pengucapan. Menurut Verauli, orangtua bisa melakukan beberapa hal ini:

  • Child directed speech (bicara per-kata atau dua kata)
  • Intonasi jelas, kencang, diulangi di berbagai konteks.
  • Re-cast: benarkan pronounce-nya
  • Expansion: harus mampu mengembangkan agar lebih bervariasi, pakai teknologi untuk belajar.

Pengalaman Darius dan Donna Agnesia dalam mengasuh Anak Multilingual



Dalam acara ini Donna dan Darius membagikan pengalamannya sebagai orangtua yang memiliki anak Multilingual. Donna dan Darius mengaku rajin memberikan stimulasi bagi ketiga anaknya melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengajak mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah, bermain pun dengan  bahasa Inggris supaya anak terbiasa.

Sebagai orangtua yang sibuk, keduanya menyadari bahwa ketiga anaknya membutuhkan lingkungan berbahasa Inggris yang suportif selain di rumah sehingga mereka mempercayakan EF (English First) sebagai patner ketiga anaknya dalam dalam berbahasa Inggris.


Kenapa harus EF (English First) 



Pengalaman saya belajar bahasa Inggris di EF amatlah menyenangkan. Metode yang mereka pakai tidak membuat saya stress. Ada kalanya kami serius mendengarkan para Guru mengajar, ada saatnya kami tertawa karena sebuah permainan, dan ada saatnya kami keluar kelas supaya tidak bosan.

Guru-guru yang mengajar berkompeten di bidangnya. Mereka dengan sigap menumbuhkan kepercayaan diri saya untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Walaupun ada kalanya saya tidak percaya diri, tapi mereka selalu memberikan dorongan untuk lebih maju.

Ruang kelas dengan jumlah murid yang tidak banyak membuat suasana belajar lebih efektif. Dan, saya yang suka sama bule jadi lebih semangat belajarnya. Yes, karena salah satu impian saya bisa berbahasa Inggris karena ingin ngobrol sama para ekspatriat ini. Haha

Saat kursus dulu, saya suka iri melihat kelas untuk anak-anak yang penuh ceria.  Metodenya pun lebih banyak bermain, bernyanyi yang membuat anak-anak selalu bersemangat.

Yes. Buat saya EF memberikan pengalaman belajar bahasa Inggris yang menyenangkan.


Salam, 


11 comments:

  1. Bagus mba tulisannya,,aku sendiri lagi di masa memperkenalkan berbagai bahasa sama anakku 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo. Bikin deira jadi multilingual

      Delete
  2. pantes ya kenapa ilmu bahasa itu penting bgt. Kalo bahasanya aja ga paham, gimana bisa dapet ilmu yg lagi dibahasnya? :)

    ReplyDelete
  3. Emang di negara kita masih banyak mitos yang masih tumbuh subur, termsuk dalam hal pengajaran bahasa. yuukk kita berantas mitos2 itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget. Mitos harus dibuktikan biar valid

      Delete
  4. Sepakat banget...anak saya dua-duanya alhamdulillah menguasai dua bahasa yaitu bahasa inggris dan bahasa arab, sekarang sedang kami coba biasakan bahasa daerah yaitu bahasa sunda agar tidak lupa akan asal-usul keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren. Bagaimana pun bahasa daerah juga penting

      Delete
  5. Keren bangettt dirimuuu mbaaa
    Aku juga hepi dgn konten seminar ini
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  6. mantap klo sekarang nggak ngikutin zaman, ya akan ketinggallan bgt.
    salam kenal aja mbak, follback ya

    ReplyDelete