Kotak Warna: Guru Era Digital

Sunday, November 8, 2015

Guru Era Digital

Dahulu, aku membayangkan menjadi seorang Guru di sebuah Taman Kanak-Kanak adalah hal yang menyenangkan.

Ada banyak gelak tawa yang bisa kudengar dan celotehan lucu dari bibir-bibir mungil yang tak pernah kehabisan energi. Selalu membuat suasana menjadi ceria.

Lalu, kisah itu terjadi padaku. Selepas lulus kuliah aku memang tak pernah membayangkan menjadi seorang Guru Taman Kanak-Kanak. Semuanya berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Di saat aku gagal melanjutkan kuliah S2 datanglah tawaran itu padaku.

Gambaran tentang menjadi seorang Guru Taman Kanak-Kanak menyenangkan benar adanya. Berbaur dengan anak-anak terkadang membawa kita menjadi seperti layaknya bocah kecil. Mereka selalu membuatku tersenyum dan memberi aku banyak energi.

Lama kelamaan bayangan menyenangkan itu memudar. Kami sebagai seorang Guru mulai diributkan dengan yang namanya Administrasi Sekolah (memang tak salah. Sebab administrasi diperlukan supaya sekolah berjalan dengan baik).

Kian hari pekerjaan kami semakin bertambah. Mengajar tak lagi bisa menyenangkan. Guru-guru disibukkan mengisi data yang datangnya bertubi-tubi. Kami kian jarang membuat anak-anak banyak bergerak di luar. Terkadang kami membuat anak-anak sedikit kesulitan dengan tugas yang diberikan.

Era digital menuntut para Guru untuk serba bisa. Selain mengajar kami harus memiliki keterampilan lain, yaitu mengisi data secara online. Tak ayal kami menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer mengisi data yang kadang kami tak mengerti untuk apa.

Bahkan ada guyonan yang sering saya lontarkan pada teman-teman:
"Suwi-suwi Guru TK Iki koyok PNS. Pekerjaannya tapi bukan gajinya."

Hihi. Teman-teman seprofesinya biasanya cuman ngikik.

Kalau di luar sana para buruh berdemo minta kenaikan upah UMK. Kami para Guru TK hanya tersenyum dengan gaji yang tarafnya sangat jauh dibawah UMK. Karena kami ingin membuat anak-anak bahagia.

Sayangnya, perlahan kebahagiaan anak-anak mulai terenggut. Guru yang seharusnya menemani aktivitas belajar lebih banyak meninggalkan kelas untuk mengisi data.

Wajar, kalau aku sedikit pesimis dengan pendidikan di Indonesia. Guru selalu dibuat pusing dengan aturan yang berubah-ubah tapi ketika terjadi permasalahan terhadap siswa. Kita selalu menjadi barisan depan untuk dipersalahkan.

Ah. Entahlah mau dibawa kemana arah pendidikan ini. Serius, pekerjaan menjadi Guru tak lagi semenyenangkan dulu. 

4 comments:

  1. Miris memang dengan kenyataan guru digaji murah untuk membangun moral bangsa sedangkan artis dibayar mahal untuk menghancurkan moral bangsa.

    ReplyDelete
  2. LOh.. kok bisa gitu ya? jadi anak2 TK nya di kelas siapa yang nemanin atau dampingi? dibiarin gitu aja sama sekolah? orang tuanya nggak ada yang protes?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap didampingi. Hanya saja pembelajaran jadi kurang fokus.

      Terima kasih sudah mampir

      Delete