Kotak Warna: Titik Nadir

Wednesday, September 16, 2015

Titik Nadir


"Pernah nggak kamu berada pada titik terendah dalam hidup yang membuatmu menyalahkan Tuhan?"
Jawabannya pernah.

Ketika itu saya baru naik kelas 2 SMA. Tiga minggu sebelumnya saya baru keluar dari RS setelah melakukan pergantian pacu jantung untuk kedua kalinya.

Pagi itu kami melakukan pemeriksaan jahitan apakah sudah kering atau tidak. Diam-diam ada sebuah pembicaraan antara dokter dan kedua orang tua saya. Mereka bertiga sengaja sedikit menjauh agar tidak terdengar oleh saya.

Hari itu saya mendapatkan sebuah kenyataan bahwa pacu jantung ini akan melekat dalam tubuh saya. Istilah halusnya butuh bantuan tangan dari Tuhan.
Rasanya semua terasa berat bagi saya. Dalam benak terpikirkan bahwa tiap 8 tahun sekali saya harus berbaring di atas meja operasi yang dingin untuk mengganti pacu jantung.

Sepulang dari dokter saya hanya diam. Masuk kamar dan menangis sekencang-kencangnya. Saya tidak ingin membuat orang tua saya terbebani. Itulah kenapa saya lebih suka menangis diam-diam.

Semenjak hari itu semua berubah. Saya menjadi pribadi yang tak percaya diri. Sebagai seorang remaja seakan kehilangan jati diri. Untuk mengenal lebih dekat lelaki yang saya sukai pun tidak berani. Ditambah pandangan belas kasihan dari orang-orang yang tahu riwayat kesehatan saya.

Di depan keluarga, teman-teman dan orang tua saya sengaja memasang wajah ceria. Saya sudah terlalu lelah untuk dikasihani. Bahkan, sekadar dipandang sebelah mata.

Buat saya masa SMA adalah yang terberat. Perlahan saya mulai menarik diri, tertutup pada banyak orang. Saya takut dengan pandangan orang.

"Kenapa harus saya yang dilahirkan begini?"

Pertanyaan seperti itu kerap muncul di dalam diri saya. Beberapa kali saya marah sama Allah. Kenapa saya harus dilahirkan dengan keadaan seperti ini.

Pernah terlintas dalam benak saya tentang sebuah kematian tapi saya beruntung karena memiliki sebuah diary. Tempat di mana saya bisa menuliskan keluh kesah tanpa mendapatkan cibiran.

Sampai saya masuk ke Perguruan Tinggi. Saya bertemu seorang teman. Ketika saya menyampaikan pendapat bahwa Tuhan itu tidak adil.

Tahu apa jawabannya?

"Allah itu adil, Tika. Dia ngasih kamu sakit karena dia sayang sama kamu. Coba kalau kamu nggak dikasih sakit pasti sombong. Itulah kenapa kamu diberi sakit. Allah ingin kamu selalu mengingatNya."
Deg. Saya seperti tertampar. Ah...rasanya saya salah selama ini marah sama Allah. Sejak saat itu saya belajar menulikan telinga tentang omongan orang terhadap saya.

Saya belajar untuk menerima ketetapan Allah ini. Semua yang Allah takdirkan buat saya adalah yang terbaik. Setiap orang memiliki ujian tersendiri dalan hidupnya.

Saya bersyukur, Allah memberi saya kekuatan, teman-teman yang baik dan keluarga yang hangat. Mereka akan selalu mendukung saya saat lelah mulai datang.

Kadang saya sedih melihat orang-orang di luar sana yang sampai mengonsumsi narkoba untuk bertahan terhadap kerasnya dunia. Padahal mereka memiliki fisik yang lebih sehat dari saya. Jantung yang lebih normal dari milik saya.

Ah...andaikan mereka tahu. Untuk bisa hidup normal ada sebuah alat yang berdetak di jantung saya dan saya harus selalu berjuang di meja operasi.

Berbahagialah, selagi kalian bisa dan mampu.

8 comments:

  1. Agak lupa-lupa ingat sama cerita ini, tapi pelajarannya luar biasa berguna sekali. Semangat mbak.!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih. Semoga selalu kuat :)

      Delete
  2. Setuju kata temen mba.. sy pun pnh mengalami kecelakaan berat yg membuat sy dulu pnh merasa ky mba.. tp akhirngnya sy menemukan titik balik jg utk berubah.. alhamdulillah bgt ya mba kita tersadar sebelum terlambat..
    Mudah2an mba sehat trs ya.. tetap semangat.. mari mampir ke blog aku tuker cerita. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Allah masig kasih kita kekuatan untuk bertahan. Semoga kita selalu sehat :)

      Delete
  3. Membaca kisah orang lain memang membuat kita lebih bersyukur. Mbak Tika hebat bisa bertahan dan hidup penuh percaya diri hingga kini. Bahkan punya blog pula. saya pun pernah merasakan hidup pada titik nadir. saya pun ada kelainan di ginjal dan kerap mempertanyakan why me? Tapi itu bukti cinta Allah kepada saya agar mengerem atau membatasi diri dari peluang sombong atau dari potensi keburukan lain seperti ujaran teman Mbak. Saat akan mengeluh, sekarang saya ingatkan diri dengan pesan teman saya, "Kehidupan/kondisi yang kau keluhkan adalah hidup/kondisi yang orang lain inginkan/mimpikan." dengan begitu saya jadi bersyukur dan woles aja dg semua ketidakenakan dalam hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh bertahun-tahun agar saya kuat, Mas. Saya bersyukur kegemaran saya menulis diary membuat hidup saya lebih ringan. Kadang kalau sudah lelah saya hanya diam dan berusaha lebih tabah.

      Makasih sudah mampir, Mas :)

      Delete
  4. Semangat terus mba. Saya pun pernah mengalami di titik nadir itu. Dua kali hamil dan harus berakhir dengan menyedihkan karena IUFD dan blighted ovum. Padahal hamilnya harus program dokter. Setelah itu divonis uterus bicornus (rahim ganda) dengan kemungkinan sulit hamil atau melahirkan prematur dan bayi yang dilahirkan berpotensi uterus bicornus juga. Tapi insyaallah cobaan Allah pasti baik buat kita dan ngga akan melampaui kekuatan umatnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin mba. Makasih banyak ya :)

      Delete