Kotak Warna: A love letter to Dru

Friday, July 3, 2015

A love letter to Dru

Klik link
Dear Dru,
Ini adalah surat pertama yang kutulis selepas kepergianmu yang tiba-tiba. Semua begitu cepat. Aku bahkan tak sempat mengucapkan salam perpisahan kepadamu.

Dru,
Ini kali pertama aku mampu memegang pensil dengan baik. Sebelumnya, semua terasa berat. Kepergianmu yang begitu cepat seakan membawa separuh jiwaku pergi bersamamu. Aku hanya termenung. Menunggu kamu datang.

Mama, papa, Kak Keira dan Dina khawatir dengan keadaanku yang katanya mirip patung.

Butuh berminggu-minggu meyakinkan diriku bahwa kamu telah tiada. Sesak rasanya dada ini, Dru. 

Matahari adalah pusat dari tata surya. Dan, bagiku kamu adalah matahari. Saat kamu menghilang, seluruh duniaku terasa gelap. Yang tersisa aroma getir dan awan mendung yang menggelayut dalan dadaku.

Dru,
Apa kabarmu? Apakah di sana kau bisa melihatku? 
Aku sudah tidak menangis lagi. Aku sedang belajar untuk menerima kepergianmu. Ya. Jadi, jangan paksa aku untuk lekas melupakanmu. Maaf aku belum bisa.

Tapi, aku berjanji untuk tetap menjalani hidupku seperti biasanya. Aku tak ingin membuatmu sedih, pun keluargaku. 

Dru,
Jika aku merindukanmu. Masih bolehkan aku mengenang tentangmu?


Salam hangat,


Nahayu Prameswari

2 comments:

  1. Sabar ya Mbak.. Cukup dipahami kesedihan Mbak yg ditinggal pergi seseorang utk selamanya.. Mungkin hanya doa yg tulus agar bisa melupakannya perlahan..

    ReplyDelete