Kotak Warna: Ramadhan di Baitullah

Saturday, June 20, 2015

Ramadhan di Baitullah

Buka Puasa Pertama di Pelataran Masjid Nabawi
Dari dulu saya suka membayangkan bagaimana rasanya merayakan hiruk pikuknya Ramadhan di Negeri Orang.
Apakah sama saja rasanya atau berbeda?
Lalu, kesempatan itu dijawab oleh Allah. Tahun lalu, kami sekeluarga diberi hadiah oleh Allah untuk bisa merasakan Ramadhan di Arab Saudi. Sungguh Rizki yang tidak terkira.

Segala persiapan kami lakukan. Mulai dari mengurus paspor. Sebelum melakukan vaksinasi Meningitis dan flu saya berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter. Kebetulan saat saya mau berangkat Umroh sedang hangat-hangat isu tentang virus Merrs.

Alhamdulillah. Dokter memberi lampu hijau untuk melakukan vaksinasi. Tak lupa memberi cara bagaimana cara saya menjaga kesehatan selama berada di tanah suci.

Dalam perjalanan Umroh kali ini, kami mengambil program mengunjungi Makkah terlebih dahulu. Baru dilanjutkan perjalanan menuju Madinah.

Alhamdulillah tidak halangan selama di Makkah. Semua ibadah berjalan lancar. Hanya suhu yang kali itu cukup panas.

Bulan Juni di Makkah berarti masuk musim panas. Suhu saat itu berkisar antara 38-42 celcius. Cukup panas untuk kami yang tinggal di negara tropis.

Ibadah inti Umroh sudah selesai. Perjalanan dilanjutkan menuju Madinah untuk Ziarah Nabi. Ternyata Madinah lebih panas dari Makkah beberapa derajat.

Saya membayangkan gimana dengan puasa kami besok. Saat itu malam 1 Ramadhan kami sudah masuk di Madinah dan ikut melaksanakan sholat tarawih di masjid Nabawi.

Pengalaman pertama Shalat Tarawih di Madinah itu menakjubkan. Duduk berdampingan dengan umat muslim seluruh dunia. Kami harus berangkat lebih awal ketika Shalat Isya karena tarawih pertama orang-orang berduyun-duyun untuk sholat berjamaah. Alhamdulillah kami mendapat tempat yang nyaman.

Di Masjid Nabawi lebih tertib dalam pengaturan Shaf Sholat berbeda dengan Masjidil Haram. Ada Askar/polisi wanita yang akan mengatur ketertiban beribadah shalat. Jika kita salah dalam memilih shaf pasti mereka akan menyuruh kita pindah.

Di Masjid Nabawi shalat Tarawih terdiri dari 23 Rakaat dengan bacaan shalat yang panjang-panjang. 1 rakaat bisa memakan waktu kurang lebih 20 menit. Bisa diperkirakan sholat tarawih akan selesai.

Yang paling dinanti adalah sahur pertama. Sejak pukul 2 saya sudah gelisah. Jam 3 kami turun ke bawah untuk makan sahur. Di resto hotel sudah penuh dengan orang. Kami makan sahur untuk pertama kali. Sambil membayangkan bagaimana rasanya berpuasa dengan suhu panas sepanas ini. Sempat terbersit "kuat nggak ya?"

Alhamdulillah ternyata seperti dibayangkan. Puasa pertama berjalan lancar. Rasa panas tak menghalangi kami untuk beribadah. Bahkan, untuk melakukan Ziarah ke Masjid Quba, Jabal Uhud. Udara panas tak membuat kami merasakan dahaga.

Persiapan buka puasa bersama di Masjid Nabawi sudah dimulai sejak habis sholat Dhuhur. Mobil-mobil kontainer membawa makanan hilir mudik di pelataran masjid. Nabawi. Ada perusahan katering yang mulai menata meja-meja di depan halaman masjid.

Yang menarik dari Ramadhan di Tanah Suci adalah pada orang-orang kaya di sini berlomba-lomba untuk beramal. Nggak tanggung-tanggung mereka bersedekah dalam jumlah cukup besar. Pakai kontainer loh.

Menurut salah satu pembimbing kami di Madinah. Semua orang akan membuat area masing-masing. Nanti seluruh Jamaah bisa memilih tempat di mana mereka akan berbuka. Semakin banyak yang datang ke area mereka. Mereka akan semakin senang.

Pukul 5 sore waktu setempat, kami sudah bersiap-siap mencari tempat berbuka puasa. Bingung menentukan apakah akan berbuka di depan halaman, dipelataran masjid atau di dalam masjid.

Di depan halaman masjid sudah tumpah ruah dengan para jamaah. Mereka berkumpul tanpa memandang pangkat dan jabatan. Aku, kakak dan mama sempat bingung ketika mau berbuka di depan halaman masjid. Soalnya di sana sudah banyak penduduk lokal. Jarang terlihat orang asia.

Kami beruntung. Ada meja yang berisi orang Indonesia. Saya bertanya apakah boleh duduk bersama. Dan, Allhamdulillah kami bisa mendapat tempat duduk.

Satu persatu hidangan mulai disajikan. Dimulai dari air mineral, yogurt, jus buah, buah-buahan, kurma, roti yang ukuran besar dan es krim. Satu per satu dari pekerja katering akan memeriksa apakah makanan kami ada yang kurang.

Begitu adzan berkumandang. Nasi mulai dibagikan. Ah. Saya terharu melihat pemandangan ini. Bahkan ketika menuliskan kembali pengalaman ini bulu kuduk saya merinding. Buat saya ini pengalaman tak terlupakan.

Ya Allah kami diberi kesempatan untuk merasakan 1 Ramadhan di Tanah Suci. Itu sungguh hadiah yang tak ternilai.

Sehabis Shalat Magrib Allah lagi-lagi memberi kami hadiah. Seorang gadis muda berkebangsaan Arab mendatangi kami. Dia memberi kami 3 kotak nasi, jus buah dan beberapa minuman. Allhamdulilah. Indah sekali berbuka puasa di sini. Sebuah perjalanan hati yang luar biasa.

Saya memang belum pernah berkunjung ke negara lain. Tapi buat saya Makkah dan Madinah selalu membuat saya ingin kembali lagi.  Dua kota yang cantik dan selalu kurindukan.



Suasana sebelum buka puasa di depan halaman masjid Nabawi


Berfoto sehabis sholat magrib sama penduduk sana. Baik dan cantik 

Menu pembuka buka puasa. Ada ice cream juga dan nasi



Suasana saat tarawih malam pertama






3 comments:

  1. Semoga aku juga bisa kesana dalam waktu dekat :')

    ReplyDelete
  2. Subhanallah, indahnya bisa merasakan ramadhan di baitullah

    ReplyDelete