Kotak Warna: Cerita tentang hujan (8): my energy

Tuesday, January 20, 2015

Cerita tentang hujan (8): my energy






Sudah terhitung tiga minggu sejak terakhir kali aku berkunjung ke kafe Batavia untuk menemui gadis itu yang berujung kekecewaan. Gadis itu tidak datang, bahkan ketika keesokan aku kembali lagi ke sana. Dia tidak ada.

Kertas yang kutitipkan kepada salah satu barista di sana pun tak mendapatkan hasil apa pun. Gadis itu seakan menghilang di antara cerahnya langit. Beberapa hari ini, hujan tak lagi turun. Mungkin itu sebabnya dia tak muncul.

Seandainya gadis itu tahu seberapa besar aku menunggunya. Setiap hari kuluangkan waktuku hanya untuk mengunjungi kafe itu dan berharap bisa melihat lagi senyumannya, tapi sayangnya tidak. Belum lagi ejekan Damar yang membuatku kupingku agak memerah saat dia memergoki memandangi ke arah ponselku. Seakan-akan aku akan menelan benda berwarna hitam dengan logo apel itu.

"Sejak kapan lo jadi obsesi sama hp?" selidik Damar saat melihatku menatap layar ponsel. Sore itu kami baru saja bertemu klien yang ingin mengadakan perombakan untuk kedai kopinya.

"Bawel lo. Habisin tu kopi," balasku sengit.

Damar nyengir mendengar komentarku. "Dari lagak lo. Kayaknya ada yang jatuh cinta ni." Damar menyeruput kopi hitamnya.

"Berisik!"

"Seorang Rama Atmaja nggak bakal obsesi dengan hp kalau dia nggak lagi jatuh cinta. Gue kenal lo, Sob. Elo itu paling sulit untuk dihubungin," sindir Damar.

"Kalau cuman lo yang telpon gue juga ogah. Udah ah. Gue mau cabut." aku beringsut dari kursi. Memasukkan kertas-kertas di atas meja ke dalam tas. " tagihan kopi masukin aja atas nama gue." aku melambaikan tangan.

"Hati-hati kesambet," teriak Damar
****
Meja kerjaku penuh dengan kertas sketsa yang berserakan dan konte yang tinggal separuh. Sambil tetap berada di tempat duduk aku menggerakkan kursiku yang beroda ke samping kanan. Meraih cangkir kopi yang letaknya sedikit berjauhan dari kertas-kertasku. Aku mendesah. Kopiku telah tandas. Itu artinya aku membutuhkan secangkir lagi.

Aku beranjak dari kursi menggerakkan kedua tangan dan pundakku yang terasa kaku. Seharian ini aku berusaha menyelesaikan sketsa milik klien yang tenggat waktunya esok hari.  Dan, sampai saat ini aku belum bisa menggambar sesuai apa yang diinginkan klien.

Itu membuatku frustasi.

Belakangan ini aku merasa semangat kerjaku menurun. Sepertinya seluruh perhatianku hanya terpusat pada gadis pemilik payung berwarna merah itu. Aku menghela napas. Sudah tingga minggu. Kenapa dia tak menghubungiku juga?

Apakah sesuatu telah terjadi dengannya?

Arrg. Aku mengacak-acak rambutku dengan kasar. Entah kenapa gadis ini malah menyedot perhatianku saat ini. Aku mengentakkan kaki dan berjalan keluar dari ruang kerjaku. Yang kubutuhkan secangir kopi supaya aku bisa konsentrasi.

Baru beberapa langkah, kudengar ponselku berdering. Aku berbalik arah kembali ke kamar. Menyambar ponsel yang kuletakkan dekat kertas sketsaku. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar.

Ada rasa bimbang. Apakah aku harus mengangkatnya atau tidak? Aku tidak terbiasa menerima panggilan yang tak kukenal. Panggilan itu berhenti. Aku baru akan memindahkan ponselku ke mode getar ketika nomor itu kembali tertera di layar.

Aku mendesah. Seperti ini memang telepon penting. Aku memutuskan untuk mengangkatnya.

"Hallo," sapaku.

Tak ada jawaban. Hanya suara deru napas di seberang sana.

"Rama?" suara seorang wanita memanggilku.

"Iya. Ini siapa?"

"Aku gadis pemilik payung berwarna merah. Besok sore kita bisa bertemu di kafe Batavia."

Aku tak bisa berkata-kata. Selain kedua bibirku yang tertarik ke samping membentuk senyuman lebar. Aku senang gadis itu masih mengingatku. Itulah yang terpenting.

"Besok jangan sampai terlambat," ucapku memecah keheningan.

"Oke."

Panggilan terputus. Aku bergeming. Rasa hangat menelusuri seluruh tubuhku. Tepatnya di dada. Seakan ada dorongan energi yang berkumpul, memenuhi seluruh rongga dada. Membuat semangatku kembali.

Aku menyentuh layar ponselku. Mencari nomor gadis itu di panggilan masuk. Setelah kutemukan. Aku menyimpannya dengan nama 'Gadis Hujan'

Dan, benar saja. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara gemericik hujan di atas atapku. Hujan kembali datang.

Aku mengurungkan niatku membuat kopi. Dengan hati riang aku kembali meneruskan sketsaku yang belum selesai.

Kurasa aku tahu darimana energiku berasal.

No comments:

Post a Comment