Kotak Warna: Cerita tentang hujan (4): Aku menyebutnya takdir

Tuesday, December 23, 2014

Cerita tentang hujan (4): Aku menyebutnya takdir




Aku merenggangkan kedua tanganku ke udara, dan menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Mengurangi rasa kaku di kedua pundakku. Seharian ini yang kulakukan adalah menatap layar komputer yang menampilkan foto-foto yang bergerak lambat. Aku tersenyum puas menatap hasil karyaku. Sebuah film berisi rangkaian foto yang telah kupilih sedemikian rupa hingga membentuk sebuah cerita. Pekerjaan yang sering kulakukan di saat senggang.

Aku suka memotret. Tidak ada keahlian khusus. Aku suka mengabadikan gambar apa pun. Buatku selama gambar itu menghasilkan cerita. Aku akan mengabadikannya dengan lensaku. Tapi, sayangnya aku tidak ingin disebut fotografer karena aku melakukannya untuk senang-senang.

Aku beringsut dari kursiku, berjalan ke dapur, membuka lemari es dan mengeluarkan kotak susu coklat dari dalam sana. Kemudian, menjatuhkan tubuhku di sofa dekat jendela. Aku meneguk langsung susu coklat itu dari kotaknya sembari melihat keadaan di luar dari jendela apartemenku yang besar.

Di luar, langit masih berwarna abu-abu. Bahkan, aku masih bisa melihat rinai hujan bertaburan dari langit dan tempiasnya yang membuat kaca di apartemenku mengembun. Akhir-akhir ini cuaca benar-benar tidak stabil. Sebentar panas, sebentar hujan. Dan, itulah yang membuatku malas beranjak dari apartemenku. Aku tadi sudah menghubungi Ratri --sekretarisku. Mengabarkan padanya bahwa aku tidak datang ke kantor hari ini.

Sampai pandanganku tertubruk pada payung berwarna merah manyala yang teronggok di dekat lemari.  Aku berjalan mengambilnya.  Payung itu nampak berdebu. Sepertinya seseorang sudah meninggalkannya di sana. Aku membersihkannya dengan kedua tanganku, meraba permukaannya dengan lembut.


Payung siapa ini?

Aku mencoba mengingatnya. Di mana aku pernah melihat payung seperti ini sebelumnya. Rasanya tidak asing bagiku. Lantas, aku terbahak dan menepuk keningku dengan keras. Ini payung milik gadis itu. Gadis yang waktu itu mengantarkanku sampai halte bis, dan dia lebih memilih badannya basah untuk meminjamkan payungnya itu padaku.

"Bawa saja payungnya. Kamu bisa mengembalikannya kalau kamu teringat kepadaku. Aku sering berada di cafe di seberang sana setiap jam 3 sore."
*****
Aku tergesa-gesa turun dari taksi, setelah membayar sejumlah yang tertera di argo dengan sebuah payung di tangan kananku.  Aku sengaja menggunakan taksi karena aku tahu lalu lintas sehabis hujan itu menjengkelkan. Macet di mana-mana dan aku tak mau terjebak di dalamnya.

Aku masuk ke dalam cafe yang kemarin ditunjukkan oleh gadis itu. Aku celingukan, mencari sosok gadis itu di antara pengunjung. Tapi, gadis itu tak ada di sana. Apa aku terlambat?  

Aku refleks melihat jam tangan di pergelangan tanganku. Waktu masih menunjukkan pukul 3 sore. Seharusnya gadis itu sudah berada di sini. Apa mungkin dia nggak datang hari ini?

Aku berjalan menuju kasir, mencoba mencari tahu apakah para barista di sini mengenal gadis itu. Kalau memang benar dia berada di cafe ini setiap sore. Tapi, kemudian aku mengurungkan niat. Aku berjalan keluar cafe dengan langkah gontai. Sepertinya tidak hari ini.

Aku masih bertahan di depan pintu cafe, mendongakkan kepala di atas. Mengamati bangunan apartemen yang menjulang tinggi di hadapanku. Mataku mengamati satu persatu kaca besar di bangunan itu, dengan harapan gadis itu bisa melihatnya dari atas sana. Lalu, aku tersenyum pahit. Gadis itu tidak mungkin tinggal di situ. 
Pertemuan kami berdua hanyalah kebetulan.

Aku baru saja ingin menelepon taxi saat aku melihatnya. Gadis itu berada di seberang jalan. Memakai terusan berwarna kuning yang dibungkus coat berwarna cokelat muda. Dia tersenyum ke arahku dan aku membalasnya. Seperti ada ikatan tak kasat mata yang saling terhubung di antara kami.

Aku berlari kecil menyebrangi jalan, yang ingin kulakukan adalah lekas bertemu dengannya. Sampai sebuah bunyi klakson panjang yang berdenging membuatku tersadar dan segera melompat ke tepi.
"Mau mati ya!" supir taksi menyumpahiku. Aku menundukkan kepala untuk meminta maaf kepadanya yang dibalas dengan makian.
Setelah menenangkan irama jantungku, aku kembali menyebrang. Menghampiri gadis itu. Aku bisa melihat raut khawatir di wajahnya yang semakin pucat.
"Kamu hampir celaka," ucapnya saat aku mendekatinya.
Aku menggaruk belakang kepalaku sambil tersenyum, "untungnya, tidak."

Hujan mulai berjatuhan dari langit. Aku bergegas membuka payung dalam genggamanku. Lantas memayunginya sebelum tubuhnya basah. "Kurasa kamu butuh minuman."
Kami berjalan bersisian menuju cafe di seberang. Menerobos hujan bersama.
Bel di atas pintu berdenting saat tanganku mendorongnya. Aku menyilakan gadis itu masuk terlebih dahulu. Kami berjalan ke kasir memesan minuman. Lalu, duduk di dekat jendela.
"Kita selalu bertemu saat hujan turun," aku membuka pembicaraan.

"Ini baru pertemuan kedua. Belum tentu hujan turun lagi kalau kita bertemu." Seorang barista meletakkan pesanan kami di atas meja.
"Lagi pula ini bulan Desember, wajar kalau hujan turun." Gadis itu mengangkat cangkir cokelat panasnya, lalu menyesapnya.  Aku melakukan hal yang sama. Mengangkat cangkir berisi mocha latte pesananku. Meneguknya beberapa kali.
Berikutnya, mengalirlah obrolan di antara kami. Mulai dari percakapan tentang adegan kami yang mirip dengan film Eternal Sunshine Spottles of mind sampai kesukaanku dalam bidang fotografi. Semuanya mengalir begitu saja.

Aku sempat memintanya untuk menjadi modelku. Dia hanya tertawa sambil mengibaskan tangannya. Menganggap perkataanku omong kosong. Sejujurnya, gadis itu memiliki bentuk wajah yang menarik untuk diabadikan dengan lensa.

Sayang sekali aku tidak membawa kamera. Lain kali aku pasti membawanya agar bisa menunjukkan kepadanya tentang yang kukatakan kepadanya.

Tanpa terasa sudah berjam-jam kami mengobrol. Pembicaraan panjang membuat kami kembali memesan beberapa minuman dan makanan. Jadi, jangan heran kalau di atas meja kami ada beberapa cangkir kosong.

Kami memutuskan mengakhiri pembicaraan saat melihat di luar tidak ada tanda-tanda hujan berhenti. Bahkan, semakin deras. Kami berjalan di bawah payung berdua, mengantarnya ke apartemen di seberang jalan.

Aku mengantarnya sampai lobi. Aku hendak mengembalikan payung di tanganku, tapi kuurungkan niat sebab di luar sana hujan masih turun.
"Bawa saja. Kembalikanlah kalau kita bertemu besok."

Aku mengangguk dan melambaikan tangan ke arahnya. "Waktu dan tempat yang sama," teriakku sambil membalikkan punggungku.

Dalam taksi, aku tersenyum mengingat pertemuan kedua kami hari ini. Ada rasa hangat yang menjalar di dadaku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengannya esok hari. Diam-diam, aku berterima kasih pada hujan yang turun hari ini.

Lalu lintas di depanku bergerak lambat. Aku tak peduli karena ingin menikmati perjalanan ini.








No comments:

Post a Comment